Serangan ke Pelabuhan Rusia dan Sanksi AS, Bikin Pasar Gelisah
Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan terakhir setelah pasar menimbang dua faktor yang saling bertabrakan: risiko gangguan pasokan dari Rusia dan kekhawatiran kelebihan pasokan global. Brent sempat melompat hingga sekitar 3% mendekati USD 65 per barel sebelum memangkas sedikit kenaikan, sementara WTI bergerak di dekat USD 60 per barel. Lonjakan ini dipicu serangan drone besar ke pelabuhan penting Novorossiysk di Laut Hitam, yang merusak depo minyak dan sebuah kapal, serta sanksi baru Amerika Serikat terhadap raksasa energi Rusia, Rosneft dan Lukoil. Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa kombinasi serangan dan sanksi ini membawa risiko besar bagi proyeksi produksi Rusia ke depan.
Meski harga sempat melesat, gambaran besar pasar minyak masih dibayangi tema yang sama: kekhawatiran surplus. Brent masih sekitar 14% lebih rendah dibanding awal tahun, tertekan oleh ekspektasi banjir pasokan. OPEC dan sekutunya (OPEC+) terus menghidupkan kembali kapasitas produksi yang sebelumnya dihentikan demi merebut kembali pangsa pasar, sementara negara-negara di luar OPEC juga menambah produksi. Artinya, setiap kenaikan harga yang dipicu faktor geopolitik tetap berhadapan dengan realita pasokan yang melimpah.
Sejumlah pelaku pasar menilai pergerakan kali ini mengikuti pola yang sudah beberapa kali terlihat: lonjakan tajam jangka pendek, lalu koreksi yang juga tidak kalah curam. Risiko serangan Ukraina ke fasilitas energi Rusia, sanksi, dan ketegangan geopolitik, jika digabung dengan kebutuhan minyak menjelang akhir tahun, menjadi paket faktor yang menahan penurunan harga terlalu dalam. Namun, selama isu kelebihan pasokan belum mereda, setiap lonjakan tetap rawan dibalikkan oleh aksi ambil untung.
Selain Rusia, fokus pasar juga tertuju ke Venezuela, anggota OPEC yang kembali masuk radar geopolitik. Kedatangan gugus tempur Angkatan Laut AS yang dipimpin kapal induk USS Gerald R. Ford di kawasan tersebut menambah ketegangan. Media melaporkan bahwa Presiden Donald Trump sudah diperlihatkan berbagai opsi operasi militer di negara itu. Di tengah situasi ini, Brent untuk pengiriman Januari naik sekitar 1,6% ke kisaran USD 64,02 per barel, sementara WTI kontrak Desember menguat 1,7% ke sekitar USD 59,68 per barel. Pasar jelas sedang berada di titik tarik-menarik antara risiko pasokan dan ketakutan akan banjir minyak global.(asd)
Sumber: Bloomberg