Gold Melemah ke Area $4.527, Risiko Pasokan Energi Dorong Kekhawatiran Inflasi
Harga emas turun karena pasar kembali khawatir pembicaraan damai AS-Iran bisa terganggu setelah ada serangan AS di sekitar Selat Hormuz. Jika ketegangan berlanjut, pasokan minyak bisa makin tersendat, harga energi tetap tinggi, dan inflasi jadi lebih sulit turun.
Emas pada Selasa (26/05) turun sekitar 0,9% ke kisaran US$4.527 per ons, setelah sempat naik sehari sebelumnya. Militer AS menyebut serangan itu menargetkan lokasi peluncur rudal di Iran dan kapal yang diduga mencoba menaruh ranjau, dengan alasan untuk melindungi pasukan AS.
Pada saat yang sama, harga minyak Brent naik sekitar 2%. Kenaikan minyak ini penting karena energi yang mahal biasanya mendorong inflasi. Jika inflasi bertahan, peluang suku bunga tetap tinggi juga ikut naik, dan ini cenderung menekan emas karena emas tidak memberi imbal hasil bunga.
Situasi makin rumit karena di tengah negosiasi, Israel menyatakan akan meningkatkan serangan terhadap Hezbollah, sementara Iran meminta konflik di Lebanon dihentikan sebagai bagian dari syarat kesepakatan. Artinya, walau ada pernyataan optimistis dari Presiden AS Donald Trump bahwa pembicaraan “berjalan baik”, pasar belum yakin kondisi sudah stabil.
Secara lebih luas, emas disebut sudah turun sekitar 14% sejak konflik pecah pada akhir Februari. World Gold Council menilai pemulihan emas yang lebih kuat kemungkinan butuh waktu, karena keseimbangan pasar energi tidak langsung pulih meski konflik berhenti sekarang.
Di perdagangan siang di Singapura, spot gold berada di sekitar US$4.526,80 per ons. Perak turun sekitar 2% ke US$76,50, platinum dan palladium juga melemah, sementara indeks dolar Bloomberg sedikit menguat—yang biasanya membuat emas makin “berat” karena harganya dihitung dalam dolaR. (asd)
Sumber: Newsmaker.id