Emas Melonjak Ditengah Spekulasi Kesepakatan Hormuz
Harga emas naik pasca sejumlah pejabat memberi sinyal AS kian mendekati kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan arus minyak, yang meredakan kekhawatiran inflasi. Bullion sempat menguat hingga 1,6% ke sekitar US$4.580 per ounce, membalik penurunan kecil pekan lalu.
Presiden AS Donald Trump pada Senin (25/5) mengatakan pembicaraan dengan Iran terkait kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata dan melonggarkan pembatasan akses pelayaran di jalur strategis tersebut “berjalan dengan baik”. Dalam sesi yang sama, harga minyak turun sekitar 5%, dengan Brent kembali di bawah US$100 per barel, sementara dolar AS melemah.
Kombinasi minyak yang melemah dan dolar yang turun menjadi pendorong utama emas. Dolar yang lebih lemah membuat emas lebih murah bagi pembeli non-AS karena logam mulia diperdagangkan dalam denominasi dolar.
Pada pukul 14:30 di New York, emas spot naik 1,4% ke US$4.570,50 per ounce. Perak naik 3,4% ke US$78,08 per ounce, sementara platinum dan palladium juga menguat. Indeks dolar Bloomberg turun sekitar 0,3%.
Meski reli emas pulih, sebagian pelaku pasar terlihat menahan diri karena rincian kunci terkait program nuklir Iran masih belum jelas. Faktor likuiditas juga menjadi catatan, mengingat sejumlah pasar utama seperti AS, Inggris, Hong Kong, dan Korea Selatan tutup untuk libur, sehingga pergerakan bisa lebih sensitif terhadap headline.
Di sisi lain, tekanan yang lebih struktural masih datang dari ekspektasi suku bunga. Emas disebut telah turun sekitar 13% sejak konflik dimulai pada akhir Februari, ketika lonjakan harga energi mendorong pasar menaikkan taruhan kenaikan suku bunga karena kekhawatiran inflasi. Pasar uang kini mem-price-in bahwa Federal Reserve hampir pasti mulai menaikkan suku bunga pada Desember, sebuah dinamika yang cenderung membebani emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Pergantian kepemimpinan The Fed juga menjadi fokus, dengan investor menunggu petunjuk pandangan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, terhadap ekonomi. Sejumlah pelaku pasar menilai emas masih punya “fondasi” sebagai aset lindung nilai di tengah konflik geopolitik, tetapi menghadapi tantangan dari suku bunga tinggi, dolar yang relatif kuat, dan ekspektasi inflasi yang bertahan.
Variabel yang dipantau berikutnya adalah kejelasan detail dan jadwal implementasi kesepakatan AS–Iran (terutama isu nuklir), arah harga minyak pasca-libur, serta perubahan pricing pasar atas lintasan suku bunga The Fed yang akan menentukan ruang gerak emas setelah reli berbasis pelemahan dolar.(yds)
Sumber: newsmaker.id