Emas Naik, Premis Risiko Energi Mulai Terkikis
Emas menguat pada perdagangan Senin (25/5) di sesi AS, terbantu pelemahan dolar di tengah harapan AS dan Iran kian mendekati kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang tiga bulan yang memicu guncangan pasokan energi.
Emas spot (XAU/USD) berada di sekitar US$4.564 per ounce. Sementara itu, emas kontrak Juli dilaporkan terakhir naik US$45,80 ke US$4.602,20 per ounce.
Penguatan emas muncul ketika pembicaraan kedua negara berlanjut terkait Selat Hormuz yang disebut telah tertutup hampir tiga bulan, menahan arus pasokan energi dari kawasan Teluk. Wall Street Journal sebelumnya melaporkan Iran bersedia mengakhiri blokade selat sebagai imbalan atas berakhirnya blokade AS terhadap pelabuhan Iran, namun dengan catatan kesepakatan final belum segera tercapai.
Dari sisi valas, dolar melemah pada awal sesi, dengan ICE Dollar Index terakhir disebut turun ke 98,97. Likuiditas pasar juga berpotensi lebih tipis karena pasar saham AS dan pasar obligasi AS tutup pada Senin untuk libur Memorial Day.
Dalam beberapa sesi terakhir, emas cenderung bergerak dalam rentang karena pasar menyeimbangkan dua narasi: pelemahan dolar yang mendukung logam mulia, versus risiko inflasi berbasis energi yang bisa menahan pelonggaran kebijakan suku bunga dan menjaga daya tarik aset berimbal hasil.
Fokus berikutnya adalah konfirmasi resmi dan detail implementasi kesepakatan AS–Iran, sinyal pemulihan arus pelayaran di Hormuz, serta arah dolar ketika pasar obligasi AS kembali beroperasi normal pada Selasa.(Arl)*
Sumber : Newsmaker.id