Emas Bertahan di $5.200, Pasar Mengintip CPI
Harga emas bergerak menguat tipis pada sesi terbaru dan bertahan di area US$5.200 per ons, mencerminkan kombinasi arus safe haven dan perubahan inflasi sentimen. Di tengah konflik AS–Israel–Iran yang masih memanas, investor tetap menjadikan emas sebagai tempat berlindung saat dilanda geopolitik tinggi.
Namun, emas kali ini tidak melaju kencang karena salah satu pembatasan utama, kekhawatiran inflasi sempat mereda. Penyebabnya, harga minyak yang sebelumnya melonjak mulai melemah, setelah muncul kabar IEA mengusulkan pelepasan cadangan minyak skala besar untuk menahan harga energi. Ketika tekanan inflasi dianggap menurun, pasar cenderung sedikit mengurangi kebutuhan “lindung nilai” yang agresif terhadap emas.
Faktor lain yang ikut mempengaruhi arah emas adalah ekspektasi suku bunga AS. Pasar kini menunggu petunjuk apakah inflasi benar-benar melandai atau justru kembali panas akibat efek energi. Oleh karena itu, fokus investor mengarahkan rilis CPI dan inflasi pilihan The Fed (PCE) yang akan membentuk ulang proyeksi kebijakan moneter—dan pada akhirnya menentukan apakah emas mendapat dorongan tambahan atau tertahan.
Di sisi geopolitik, risikonya tetap tinggi karena konflik telah mengganggu jalur energi penting, termasuk dinamika di sekitar Selat Hormuz. Selama berita perang dan pasokan gangguan masih beredar, emas biasanya tetap “dipelihara” oleh permintaan aset aman, meskipun tetap rentan terhadap koreksi jika sentimen pasar tiba-tiba membaik atau dolar menguat.
Sementara itu, pasar komoditas energi masih mudah berubah. Minyak yang turun tipis hari ini mencerminkan tarik-menarik antara risiko pasokan (yang menopang harga) dan wacana pelepasan cadangan (yang menekan harga). Arah minyak penting untuk emas karena minyak mempengaruhi ekspektasi inflasi: minyak naik tajam, ketakutan inflasi naik, peluang pemangkasan suku bunga mengecil, emas bisa tertahan; sebaliknya, penurunan minyak, kekhawatiran inflasi akan turun, emas bisa lebih leluasa naik bila risiko geopolitik tetap tinggi.
Ke depan, selama ketegangan geopolitik belum mereda, bias emas cenderung tetap kuat dengan volatilitas tinggi. Untuk jangka pendek, pergerakan emas akan sangat ditentukan oleh CPI/PCE: jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, emas akan menembus area atas dan memperkuat tren naik; tetapi jika inflasi lebih tinggi, dolar dan imbal hasil bisa menguat sehingga emas rawan terkoreksi dari area puncak.(asd)
Sumber: Newsmaker.id