AS Bahas Proposal Iran soal Hormuz, Garis Merah Nuklir Tetap Jadi Pengunci
Gedung Putih mengatakan pejabat AS sedang membahas proposal terbaru Iran, namun menegaskan “garis merah” untuk mengakhiri perang delapan pekan tetap tidak berubah—terutama mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut Presiden Donald Trump telah menggelar rapat dengan pejabat keamanan nasional untuk membahas proposal itu dan akan menyampaikan sikapnya “segera”.
Komentar tersebut muncul setelah laporan bahwa Iran menawarkan kesepakatan sementara: membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan AS mengakhiri blokade pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara negosiasi yang lebih kompleks terkait program nuklir ditunda ke tahap berikutnya. Media Iran juga menyebut Araqchi akan menyampaikan kepada mediator Pakistan bahwa konflik bisa berakhir jika AS mencabut blokade, menyepakati kerangka hukum baru untuk lalu lintas di selat, dan memberi jaminan tidak ada aksi militer lanjutan. Di saat yang sama, Trump disebut tetap menginginkan isu nuklir diselesaikan sebagai bagian dari kesepakatan dan menahan blokade sampai tujuan itu tercapai—membuat ruang kompromi masih sempit.
Pasar minyak tetap memantau kebuntuan ini karena arus Hormuz yang tersendat menjaga keketatan pasokan fisik. Brent naik untuk sesi keenam beruntun dan ditutup di atas US$108/barel, sementara WTI berakhir di atas US$96/barel, dengan pelaku pasar menambah premi risiko setelah harapan pembicaraan damai akhir pekan kandas. Selama akses Hormuz belum pulih, risiko inflasi energi cenderung bertahan dan menjaga pasar sensitif terhadap headline diplomasi, status blokade, serta sinyal apakah kerangka “interim deal” benar-benar bisa dijalankan tanpa menyentuh isu nuklir yang tetap menjadi titik tarik utama.(Arl)
Sumber: Newsmaker.id