Rapat Terakhir Powell? The Fed Diuji Shock Energi Iran
The Fed akan menggelar rapat kebijakan pekan ini di Washington, yang berpotensi menjadi rapat terakhir Jerome Powell sebagai ketua sebelum masa jabatannya berakhir 15 Mei, di tengah harga energi yang masih tinggi dan perang Iran yang beralih menjadi kebuntuan “perang ekonomi”. Pasar luas memperkirakan FOMC pada Rabu kembali menahan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, tetapi perhatian utama akan tertuju pada apakah The Fed mulai membuka pintu kenaikan suku bunga jika inflasi kembali menguat, sekaligus bagaimana Powell membingkai risiko pertumbuhan dan tenaga kerja.
Hambatan politik untuk konfirmasi pengganti Powell, Kevin Warsh, disebut berkurang setelah Departemen Kehakiman menghentikan investigasi kriminal terkait renovasi gedung The Fed—isu yang sebelumnya dipakai sebagian senator untuk menahan proses. Ini juga memunculkan pertanyaan apakah Powell akan tetap bertahan sebagai gubernur The Fed hingga 2028 bila Warsh segera dikonfirmasi, karena Powell sempat menyatakan keputusan itu akan diambil berdasarkan kepentingan institusi—di tengah sorotan atas independensi bank sentral dari tekanan politik.
Konteks makro kian rumit karena guncangan energi belum reda. Brent disebut naik sekitar 50% sejak perang dimulai, mendorong CPI AS mencatat kenaikan bulanan terbesar hampir empat tahun. Dengan Selat Hormuz masih terkunci oleh blokade dua arah AS–Iran, risiko inflasi energi berpotensi menyebar ke harga “core”, sementara aktivitas dan tenaga kerja bisa ikut melambat—dilema kebijakan yang “sangat rumit” menurut Gubernur Fed Christopher Waller. Karena itu, pasar akan memantau apakah pernyataan FOMC mengisyaratkan risiko kebijakan menjadi dua arah (bisa naik atau turun) dan seberapa hawkish Powell pada konferensi pers, ketika peluang pemangkasan suku bunga makin menipis.(Arl)
Sumber: Newsmaker.id