Emas Tembus $5.500, Investor Memantau Pergeseran Kebijakan Fed
Harga emas melonjak menembus rekor baru di atas $5.500 per ons, memperpanjang reli super cepat yang didorong kombinasi ekspektasi pelonggaran moneter dan perpindahan dana dari obligasi pemerintah serta mata uang. Emas batangan sempat melonjak hingga 4,6%, ketika pasar mulai “membaca” bahwa pimpinan moneter baru di Federal Reserve pada akhir tahun bisa membawa arah kebijakan yang lebih lunak.
Lonjakan ini terjadi meskipun The Fed pada Rabu menahan suku bunga dan memberi sinyal pendekatan yang lebih hati-hati untuk penyesuaian kebijakan ke depan. Namun pelaku pasar tampaknya sudah melihat melewati pertemuan kali ini—fokusnya bukan lagi sekadar keputusan sekarang, melainkan siapa yang memimpin The Fed berikutnya dan bagaimana gaya kebijakannya.
“Pasar melihat melampaui Powell. Ketua berikutnya bisa saja jauh lebih dovish,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas global TD Securities. Menurutnya, pilihan ketua The Fed akan jadi faktor kunci yang menentukan performa emas sepanjang tahun ini, karena logam mulia biasanya paling diuntungkan saat arah suku bunga condong turun.
Salah satu nama yang makin sering disebut adalah Rick Rieder dari BlackRock. Sosok veteran Wall Street ini dipandang membawa pendekatan yang lebih “market-driven”. Ia pernah mendorong pemangkasan suku bunga yang lebih agresif dan mengkritisi komunikasi kebijakan The Fed yang terlalu mengunci ekspektasi—hal-hal yang, jika tercermin dalam kebijakan, bisa menjadi “bensin” untuk emas karena lingkungan suku bunga rendah menguntungkan aset yang tidak memberikan bunga.
Di luar cerita The Fed, permintaan emas juga disulut oleh meningkatnya risiko geopolitik, pelemahan dolar, serta kecenderungan investor mengurangi eksposur ke mata uang dan obligasi pemerintah. Emas telah naik sekitar 25% sepanjang tahun ini dan baru saja menembus $5.000 minggu ini. Pada periode yang sama, perak sudah melesat sekitar 63%. Aksi jual besar di pasar obligasi Jepang ikut menambah keresahan soal belanja fiskal, sementara spekulasi intervensi untuk menahan yen turut memberi tekanan pada dolar—membuat emas relatif lebih murah bagi pembeli global.
Standard Chartered menilai kombinasi ekspektasi The Fed yang lebih lunak—bahkan dianggap kurang independen—dan risiko geopolitik dapat mempercepat alokasi ke emas, terutama dari investor ritel. “Kecuali koreksi jangka pendek, kami masih melihat risiko kenaikan lanjutan,” tulis Suki Cooper, kepala riset komoditas global bank tersebut.(alg)
Sumber: Newsmaker.id