Emas Ngegas Lagi—Target $5.000 Mulai Kebuka?
Di tengah sentimen risk-off yang makin kental, emas kembali nempel area puncak dan diperdagangkan di sekitar US$4.595/ons, dekat rekor di kisaran US$4.600 pada hari Senin. Reli ini bukan cuma “sekadar cari aman”, tapi gabungan tiga risiko besar yang datang barengan: politik, moneter, dan geopolitik.
Dari sisi moneter, sorotan tajam ke Federal Reserve bikin pasar resah soal independensi bank sentral. Begitu pasar mencium potensi campur tangan politik, dolar gampang goyah dan volatilitas suku bunga naik—dua hal yang biasanya jadi “karpet merah” buat emas.
Pada saat yang sama, ekspektasi kebijakan yang lebih longgar tetap hidup. Ketika pasar menilai peluang rate cut masih terbuka (meski ritmenya bisa lebih pelan), biaya peluang memegang emas ikut turun—karena emas tidak memberi imbal hasil, tapi jadi makin menarik saat suku bunga diprediksi melemah.
Dari geopolitik, fokus yang sempat ke Venezuela kini “balik” lagi ke Iran. Protes yang makin panas dan potensi keterlibatan AS menambah ketidakpastian di Timur Tengah. Untuk minyak, pasar sering butuh bukti gangguan pasokan dulu; tapi untuk emas, cukup headline risiko saja sudah bisa mengangkat permintaan sebagai lindung nilai.
Kombinasi ini menjelaskan kenapa investor terlihat enggan ambil untung meski harga sudah di rekor: emas lagi berdiri di “persimpangan” tiga faktor sekaligus. Kalau tensi politik–The Fed–geopolitik tetap panas, maka level psikologis US$5.000 makin realistis sebagai target berikutnya—bukan karena satu pemicu, tapi karena semua pemicunya nyala barengan. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id