Minyak Naik 5 Hari Beruntun, Iran Jadi Pemicu Utama
Harga minyak naik sekitar 1% pada Rabu (14/1) dan memperpanjang reli untuk sesi kelima berturut-turut. Pasar kembali memasang “premi risiko” karena kekhawatiran gangguan pasokan Iran jika terjadi serangan AS—dan potensi balasan yang bisa mengganggu kepentingan AS di kawasan.
Pada perdagangan siang waktu AS, Brent naik 88 sen (+1,34%) ke $66,35 per barel, sementara WTI naik 73 sen (+1,19%) ke $61,88 per barel. Kenaikan ini terjadi meski ada sinyal yang biasanya menekan harga: stok minyak AS justru bertambah lebih besar dari perkiraan.
Dari sisi geopolitik, Iran memperingatkan sekutu-sekutu AS di Timur Tengah bahwa mereka bisa menyerang pangkalan AS di wilayah mereka jika Washington melakukan serangan. Seorang pejabat AS juga menyebut ada langkah pengamanan di beberapa basis utama di kawasan, seiring meningkatnya ketegangan regional.
Trump sendiri pada Selasa meminta warga Iran terus melakukan protes dan mengatakan “bantuan sedang dalam perjalanan,” tanpa menjelaskan maksudnya. Pasar menilai situasi ini membuka dua risiko sekaligus: kemungkinan gangguan pasokan jangka pendek, dan yang lebih besar—lonjakan premi geopolitik jika konflik melebar. Sejumlah analis menilai protes belum menyebar ke wilayah utama penghasil minyak Iran, sehingga dampak ke pasokan fisik belum terasa besar, tapi sentimennya sudah terlanjur memanaskan harga.
Di sisi lain, laporan EIA menunjukkan pasokan minyak AS justru naik. Stok minyak mentah naik 3,4 juta barel menjadi 422,4 juta barel (padahal pasar memperkirakan turun 1,7 juta barel).
Stok bensin juga melonjak 9 juta barel menjadi 251 juta barel (ekspektasi naik 3,6 juta barel). Data ini sempat menahan laju kenaikan, tapi untuk saat ini perhatian pasar jelas masih lebih berat ke Iran dibanding angka persediaan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id