Sterling Melemah,Seiring Risiko Stagflasi Inggris di Tengah Konflik Timur Tengah
Pound sterling bergerak tertinggal dibanding mata uang utama lain seiring pasar menilai Inggris relatif lebih rentan terhadap guncangan energi dari konflik Timur Tengah. Kenaikan harga energi dinilai berisiko mendorong inflasi kembali menguat pada saat pertumbuhan masih rapuh, kombinasi yang memperbesar kekhawatiran stagflasi dan membuat prospek kebijakan suku bunga menjadi lebih rumit.
Risiko tersebut terutama datang dari kanal energi. Lonjakan harga minyak dan gas dapat memperbesar tekanan biaya rumah tangga dan dunia usaha, sekaligus mengangkat inflasi headline. Sejumlah kajian di Inggris memperingatkan kenaikan biaya energi berpotensi mengikis perbaikan daya beli yang sebelumnya diperkirakan terjadi tahun ini, menambah beban pada konsumsi dan memperlemah momentum aktivitas.
Di pasar kebijakan, guncangan energi yang persisten dapat mempersempit ruang pelonggaran moneter karena tekanan inflasi cenderung “lengket”, sementara pertumbuhan yang melemah membatasi agresivitas pengetatan. Kondisi ini membuat sterling lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan premi risiko global, terutama ketika volatilitas energi turut mengerek biaya pinjaman dan memperburuk trade-off kebijakan.
Ke depan, pelaku pasar akan memantau durasi eskalasi konflik dan dampaknya pada harga minyak dan gas, perubahan ekspektasi suku bunga Bank of England, serta sinyal tekanan biaya dan permintaan domestik Inggris yang akan menentukan apakah risiko stagflasi makin menguat atau mereda.(Cp)
Sumber: Newsmaker.id