Minyak Turun, Sinyal Jeda Perang AS-Iran Muncul
Harga minyak berbalik melemah setelah muncul laporan bahwa mediator mengusulkan penghentian serangan selama 10 hari antara Amerika Serikat dan Iran. Usulan ini muncul setelah konflik kedua negara kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Brent turun ke bawah US$87 per barel, setelah sebelumnya sempat diperdagangkan di atas US$91 per barel. Laporan menyebut jeda serangan tersebut diusulkan untuk mencari jalan menghidupkan kembali kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran yang hampir runtuh.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan telah menerima sejumlah proposal dari mediator terkait perang dengan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan jalur diplomasi tetap aktif dalam beberapa hari terakhir, meski belum menjelaskan isi proposal tersebut secara rinci.
Harga minyak dalam beberapa waktu terakhir bergerak sangat volatil karena pasar terus menimbang peluang eskalasi dan deeskalasi konflik. Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama, karena jalur ini menjadi titik penting yang dilalui sekitar seperlima arus minyak dunia.
Tekanan terhadap pasokan masih tinggi setelah serangan terhadap kapal tanker kembali terjadi. Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz bahkan disebut hampir berhenti, setelah sejumlah kapal yang mencoba melintasi jalur tersebut menjadi target atau mengalami insiden.
Dampaknya ke market, kabar proposal jeda serangan dapat menahan lonjakan harga minyak dalam jangka pendek. Namun, risiko pasokan belum sepenuhnya hilang selama Selat Hormuz masih terganggu, stok global berada di level rendah, dan serangan terhadap fasilitas energi tetap terjadi. Jika diplomasi gagal, harga minyak berpotensi kembali menguat tajam.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id