Klaim Negosiasi Trump Dibantah Pemerintah Iran
Newsmaker.id - Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Teheran telah meminta agar perundingan antara kedua negara dilanjutkan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa pemerintahnya tidak pernah mengajukan permintaan baru untuk bernegosiasi dengan Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump mengatakan Amerika Serikat telah menyetujui permintaan Iran untuk melanjutkan pembicaraan. Namun, Trump juga menyebut gencatan senjata yang disepakati pada Juni telah berakhir, menyusul kembali terjadinya serangan antara kedua negara.
Iran memperingatkan bahwa setiap pelanggaran komitmen oleh Amerika Serikat akan mendapatkan tindakan balasan yang setimpal. Teheran tetap berkomitmen menjaga keselamatan pelayaran di Selat Hormuz dan melanjutkan koordinasi dengan Oman untuk menyusun mekanisme perjalanan kapal secara aman.
Bantahan Iran menunjukkan masih lebarnya perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran mengenai kelanjutan proses diplomasi. Ketidakjelasan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa jalur perundingan semakin menyempit, sementara aksi saling serang berisiko berkembang menjadi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Dampak terhadap Market :
Minyak: Harga minyak berpotensi menguat karena gagalnya diplomasi meningkatkan risiko gangguan pasokan dan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Emas: Ketegangan yang semakin tinggi dapat mendorong permintaan emas sebagai aset aman, terutama apabila serangan militer terus berlanjut.
Dolar AS: Dolar berpotensi mendapat dukungan dari arus aset aman, meskipun kenaikan harga minyak dan risiko inflasi dapat memperbesar volatilitas.
Pasar saham: Bursa global, terutama saham maskapai, transportasi, dan industri berbiaya energi tinggi, berisiko tertekan akibat kenaikan minyak dan memburuknya sentimen risiko.
Sentimen pasar: Bantahan Iran memperkecil harapan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat sehingga pelaku pasar kemungkinan tetap berhati-hati terhadap perkembangan konflik AS–Iran.(CP)