Ketua Parlemen Iran: AS Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Rabu (8/3) menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata dua pekan. “Ketidakpercayaan historis yang mendalam yang kami miliki terhadap Amerika Serikat berasal dari pelanggaran berulang terhadap semua bentuk komitmen — pola yang sayangnya kembali terulang,” kata Ghalibaf dalam pernyataan di media sosial.
Ghalibaf menyebut tiga bagian dari proposal gencatan senjata 10 poin Iran telah dilanggar, yakni serangan Israel yang terus berlanjut ke Lebanon, masuknya drone ke wilayah udara Iran, serta penolakan terhadap hak Republik Islam untuk memperkaya uranium. “Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi tidak masuk akal,” ujarnya. Trump pada Selasa menyatakan proposal Iran merupakan dasar yang “dapat dijalankan” untuk negosiasi.
Gedung Putih belum memberikan tanggapan segera atas permintaan komentar dari CNBC. Di pasar, harga minyak AS masih turun lebih dari 15% mendekati US$95 per barel pada 14:59 ET, meski kesepakatan gencatan senjata yang rapuh dinilai berisiko terurai.
Pernyataan Ghalibaf muncul kurang dari sehari setelah Trump mengatakan ia setuju menghentikan serangan selama dua pekan dengan imbalan Iran mengizinkan kapal melintas melalui Selat Hormuz selama periode itu. Namun, perbedaan tafsir antara AS dan Iran semakin terlihat sejak kesepakatan diumumkan, terutama terkait mekanisme di selat tersebut.
Trump menyatakan gencatan senjata bergantung pada pembukaan Selat Hormuz yang “sepenuhnya, segera, dan aman.” Namun laporan Financial Times menyebut Iran berencana meminta kapal membayar pungutan untuk melintasi jalur laut strategis itu. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pada Rabu bahwa Trump menginginkan selat dibuka “tanpa pembatasan, termasuk tanpa pungutan.”
Kantor berita pemerintah Iran, Fars, sebelumnya melaporkan lalu lintas kapal tanker melalui selat telah dihentikan seiring Israel terus menyerang Lebanon. Selama perang, lalu lintas tanker melalui Hormuz merosot tajam akibat serangan Iran, memicu gangguan pasokan minyak mentah terbesar dalam sejarah. Sebelum serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, sekitar 20% pasokan minyak global melewati Selat Hormuz.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id