• Thu, Apr 16, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

15 April 2026 23:19  |

Dampak Perang Iran Mulai Terasa ke Ekonomi AS, Tekanan Utama dari Energi

Perang Iran mulai tercermin dalam data ekonomi Amerika Serikat melalui jalur yang terlihat maupun yang lebih halus. Kenaikan biaya energi menjadi dampak paling langsung, sementara risiko perlambatan pertumbuhan masih bergerak di bawah permukaan, terutama lewat jalur ketidakpastian, inflasi, dan respons kebijakan moneter.

Meski kekhawatiran resesi meningkat sejak pertempuran dimulai lebih dari enam minggu lalu, mayoritas ekonom menilai dampaknya ke produk domestik bruto (PDB) kemungkinan terbatas. Efeknya diperkirakan hanya memangkas beberapa persepuluh poin persentase dari pertumbuhan total, selama eskalasi tidak berkepanjangan.

Kuncinya ada pada durasi. Jika gencatan senjata saat ini bertahan, tekanan inflasi dari energi dinilai akan mereda seiring waktu. Namun jika konflik kembali memanas, prospeknya menjadi jauh lebih tidak pasti dan berpotensi mengganggu pertumbuhan yang rapuh dalam dua kuartal terakhir. Mike Skordeles, kepala ekonom AS di Truist Advisory Services, mengatakan konflik akan “menggerus” sebagian pertumbuhan, tetapi isu terbesar adalah ketidakpastian yang menyertainya.

Ketidakpastian itu, menurut narasi di pasar, telah membayangi ekonomi AS sejak setahun terakhir—disebut meningkat sejak Presiden Donald Trump mengumumkan tarif “liberation day” pada awal April 2025 dan berlanjut di tengah kebijakan luar negeri yang semakin agresif. Perang memperkuat tekanan tersebut dan memunculkan pertanyaan baru: apakah lonjakan inflasi selama konflik bersifat sementara, seberapa besar konsumen—motor utama pertumbuhan AS—akan terdampak, serta seberapa jauh negara-negara yang tidak seenergi-independen AS menanggung efek rambatan.

Di atas semua itu, pasar menyoroti bagaimana Federal Reserve dan bank sentral lain merespons. Skordeles menilai harga minyak mentah penting, tetapi variabel lain seperti pendapatan masih “bertahan.” Ia juga menekankan ketidakpastian kebijakan The Fed yang dinilai menunda—bukan membatalkan—pemangkasan suku bunga lanjutan, mendorongnya ke paruh kedua tahun atau lebih lambat. Implikasinya, biaya pinjaman konsumen berisiko tetap tinggi lebih lama.

Suku bunga tinggi datang saat tekanan di level rumah tangga sudah meningkat lewat harga bahan bakar. Rata-rata nasional harga bensin tercatat US$4,10 per galon, mengacu pada data AAA dalam artikel sumber. Di sektor perumahan, kenaikan suku bunga hipotek ikut menekan penjualan rumah existing pada Maret ke level terendah dalam sembilan bulan.

Namun, konsumsi belum sepenuhnya runtuh. Belanja kartu debit dan kredit tercatat melonjak 4,3% pada Maret—tertinggi dalam lebih dari tiga tahun—berdasarkan data Bank of America. Lonjakan itu terutama didorong kenaikan belanja di SPBU sebesar 16,5%. Di luar belanja bensin, pertumbuhan belanja tetap 3,6%, yang dibaca sebagai indikasi dompet konsumen masih cukup tangguh menghadapi kenaikan harga energi.

Faktor yang diperkirakan membantu menopang konsumsi adalah nilai refund pajak yang lebih besar setelah perubahan pada undang-undang “One Big Beautiful Bill Act” tahun lalu. Rata-rata refund tahun ini mencapai US$3.521, naik 11,1% dibanding periode yang sama 2025, berdasarkan data IRS yang dikutip artikel.

Meski belanja terlihat menguat, survei sentimen konsumen tidak sejalan. Survei University of Michigan disebut menunjukkan sentimen berada di rekor terendah dalam rangkaian data sejak 1950-an, melewati berbagai episode krisis dan perang yang pernah terjadi dalam periode tersebut.

Ke depan, pasar cenderung memantau tiga variabel kunci: stabilitas gencatan senjata dan dampaknya pada harga minyak serta bensin, ketahanan konsumsi riil saat biaya pinjaman tetap tinggi, dan sinyal kebijakan The Fed terkait waktu serta besaran pelonggaran berikutnya.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL

Iran Balas Serangan AS, Tapi Pilih Jalur Diplomasi?

Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Senin pagi sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serik...

24 June 2025 07:49
GLOBAL

OPEC+ Meningkatkan Produksi, Namun Tanda Tanya Besar Masih A...

OPEC+ secara resmi menyelesaikan pemangkasan produksi minyak selama dua tahun dengan menyetujui peningkatan produksi final se...

4 August 2025 08:36
GLOBAL

Ancaman BRICS Belum Berakhir!

Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan mengenakan tarif 10% atas impor dari negara-negara anggota BRICS. Dalam komen...

21 July 2025 08:13
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai