Israel Sambut Pembicaraan dengan Lebanon, Meski Peluang Terobosan Dinilai Kecil
Israel dan Lebanon menggelar pembicaraan tingkat tinggi pertama dalam lebih dari 30 tahun, yang disebut Duta Besar Israel untuk AS sebagai “kemenangan akal sehat,” meski para pejabat meredam harapan akan berakhirnya perang dengan Hizbullah dalam waktu dekat.
Duta besar Israel dan Lebanon untuk Washington bertemu di bawah mediasi AS dalam “diskusi produktif mengenai langkah-langkah menuju dimulainya negosiasi langsung antara Israel dan Lebanon,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott pada Selasa. Namun belum ada tanggal atau waktu yang ditetapkan untuk putaran berikutnya.
Kedua pihak menyoroti fakta bahwa mereka bertemu tatap muka untuk pertama kalinya sejak 1993. Meski demikian, prospek Israel melonggarkan kampanye militernya terhadap Lebanon dinilai rendah karena Hizbullah partai politik yang juga merupakan salah satu kelompok bersenjata paling kuat di dunia tidak terlibat dalam pertemuan itu.
Perang berkepanjangan di Lebanon berisiko mengganggu upaya Presiden AS Donald Trump untuk meredakan konflik paralel dengan Iran, sponsor utama Hizbullah. Namun Israel justru meningkatkan operasinya dalam beberapa hari sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata dua pekan pada 7 April.
“Ini kemenangan akal sehat, tanggung jawab, dan perdamaian, karena pemimpin Hizbullah kemarin memperingatkan pemerintah Lebanon agar tidak ikut pembicaraan ini,” kata Duta Besar Israel Yechiel Leiter kepada wartawan di Washington. Ia menyebut pertemuan itu sebagai awal dari “pertempuran yang kuat dan konsisten” melawan Hizbullah.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan sebelum pembicaraan dimulai bahwa solusi tidak akan dicapai dalam hitungan jam, namun perundingan dapat memberikan “kerangka” bagi keamanan jangka panjang. Ia menyebut ini sebagai “kesempatan bersejarah” bukan hanya untuk gencatan senjata, tetapi juga “jawaban permanen” atas pengaruh Hizbullah selama puluhan tahun di kawasan itu.
Israel menginvasi Lebanon bulan lalu setelah Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran, ketika konflik juga disertai pemboman intensif AS-Israel. Pemerintah Lebanon menyebut ofensif Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan membuat sedikitnya 1 juta orang mengungsi. Israel mengatakan akan menguasai wilayah luas di Lebanon selatan dan mencegah lebih dari 600.000 penduduk kembali. Di pihak Israel, dua warga sipil dan 13 tentara dilaporkan tewas dalam pertempuran dengan Hizbullah, sementara serangan kelompok itu kerap memaksa warga Israel di utara masuk ke tempat perlindungan.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan negaranya melihat peluang untuk solusi berkelanjutan, namun menekankan hal itu tidak bisa bersifat sepihak. Ia meminta Israel merespons seruan Lebanon, Arab, dan komunitas internasional untuk menghentikan serangan. Serangan Hizbullah sebelumnya mengakhiri gencatan senjata rapuh yang dimulai pada akhir 2024, dan pemerintah Lebanon berjanji melucuti Hizbullah sebagai bagian dari kesepakatan itu, meski belum terealisasi—menjadi sumber frustrasi bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Dalam negosiasi terbaru, Lebanon mendorong gencatan senjata terlebih dahulu sebelum membahas isu jangka panjang. Israel menolak menghentikan serangan terhadap Hizbullah dan menuntut kelompok itu melucuti senjata.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id