AS dan Iran Dorong Pembicaraan Ceasefire Lanjutan di Tengah Blokade Hormuz
Amerika Serikat dan Iran disebut tengah mengupayakan putaran kedua pembicaraan damai dalam beberapa hari ke depan, saat kebuntuan di Selat Hormuz memperburuk krisis energi global dan menyulitkan prospek diplomasi. Sumber yang mengetahui pembahasan mengatakan tujuan utamanya adalah menggelar perundingan tambahan sebelum gencatan senjata 7 April berakhir pekan depan.
Salah satu usulan adalah kembali ke Pakistan—lokasi negosiasi awal pada akhir pekan lalu—meski opsi tempat lain juga dipertimbangkan. Trump, dikutip New York Post, mengatakan pembicaraan dapat dimulai lagi “dalam dua hari ke depan” di Pakistan, melanjutkan sesi maraton namun belum konklusif di Islamabad pada Sabtu malam.
Sembari jalur diplomasi dibuka, AS tetap melanjutkan blokade laut di Hormuz untuk menekan ekspor minyak Iran, di tengah perebutan kontrol atas jalur strategis tersebut. AS disebut menyiapkan penegakan 24 jam dengan armada lebih dari 12 kapal, termasuk kapal perusak dan USS Tripoli, disertai jet F-35 serta unsur Marinir untuk operasi boarding. Kapal-kapal AS disebut terkonsentrasi di Teluk Oman untuk ruang manuver dan pengisian ulang yang lebih leluasa, sekaligus mengurangi risiko dari rudal jelajah anti-kapal Iran.
Departemen Keuangan AS menyatakan akan membiarkan waiver sementara yang mengizinkan pembelian minyak Iran tertentu berakhir akhir pekan ini. Langkah serupa atas minyak Rusia disebut sudah berakhir pekan lalu, sebagai bagian dari upaya mengelola guncangan energi selama perang enam minggu. Di sisi lain, Iran disebut mempertimbangkan jeda singkat pengiriman melalui Hormuz agar tidak “menguji” blokade AS dan merusak peluang pembicaraan damai baru.
Di pasar, saham melanjutkan penguatan—mendorong S&P 500 mendekati rekor baru—di tengah optimisme pembicaraan damai, sementara Brent ditutup hampir 5% lebih rendah, sedikit di bawah US$95 per barel. Namun tekanan pada konsumen masih tinggi: harga ritel bensin dan diesel AS berada di level musiman tertinggi sepanjang catatan, dan pasar fisik tetap memberi sinyal kelangkaan, dengan Dated Brent masih diperdagangkan di atas US$120 per barel. IEA memperingatkan lonjakan harga produk seperti jet fuel dan bensin sudah menekan konsumen dan mengarah pada penurunan tahunan pertama permintaan minyak global sejak 2020.
Dorongan pembicaraan menunjukkan kedua pihak belum menutup pintu diplomasi meski negosiasi awal di Pakistan gagal. Swiss menyatakan siap memberi dukungan diplomatik, sementara konflik sebagian besar mereda sejak gencatan senjata 7 April—kecuali di Lebanon, di mana Israel melanjutkan operasi terhadap Hizbullah. Pembicaraan Israel–Lebanon dimulai di Washington pada Selasa untuk meredakan konflik paralel tersebut, yang menurut pemerintah Lebanon telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan membuat lebih dari satu juta orang mengungsi.
Blokade Hormuz menjadi ujian lanjutan bagi ketahanan gencatan senjata. AS mengatakan enam kapal niaga mematuhi instruksi untuk berbalik dan kembali ke pelabuhan Iran pada hari pertama blokade. Trump menegaskan AS tidak akan membiarkan satu negara “memeras dunia,” dan memperingatkan Iran agar tidak mengenakan biaya bagi kapal yang melintas. Sebuah kapal tanker yang berada dalam sanksi AS dan dikaitkan dengan China dilaporkan melintas dari Hormuz ke Teluk Oman, menguji penegakan blokade—meski tidak jelas apakah kapal tersebut singgah di pelabuhan Iran.
Risiko gangguan Hormuz juga menjadi perhatian China—pembeli minyak terbesar Iran—yang menyerukan gencatan senjata segera dan memperingatkan blokade mengancam perdagangan global. India juga ikut terimbas: Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan telah berbicara dengan Trump terkait selat tersebut, yang penutupannya sangat problematik bagi India sebagai importir besar bahan bakar dari kawasan. Gedung Putih mengonfirmasi panggilan itu tanpa merinci isi pembahasan.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id