Wacana Kuasai Minyak Iran Muncul, Pasar Siaga Eskalasi
Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan gagasan untuk mengambil alih sektor minyak Iran, dengan salah satu pertimbangan yang dibahas di lingkarannya adalah memperluas dominasi energi AS untuk menambah daya tawar terhadap China. Trump menyampaikan ide itu di Gedung Putih pada Senin, sembari mengakui risikonya karena dapat memperdalam keterlibatan AS di Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan ia ingin “mengambil minyak” Iran dan mempertahankannya, namun juga menyinggung sensitivitas politik domestik karena publik AS menginginkan perang segera diakhiri. Dalam materi yang beredar, gagasan ini dikaitkan dengan upaya memaksimalkan pengaruh AS atas arus minyak global di tengah perang Iran dan gangguan pasar energi.
Orang-orang yang memahami pembahasan tersebut menilai Trump melihat potensi kontrol atas aliran energi Iran sebagai kartu tambahan dalam hubungan dengan Presiden China Xi Jinping, di saat China merupakan importir minyak utama. Dalam kerangka pikir itu, pembatasan pasokan akibat perang dan tersendatnya arus melalui Selat Hormuz dinilai dapat mengurangi ruang gerak Beijing.
Namun, rencana penguasaan jangka panjang atas sektor energi Iran dipandang sebagai operasi yang sangat besar, berbiaya tinggi, dan berisiko memunculkan pertanyaan hukum internasional. Seorang pejabat Gedung Putih juga disebut memperingatkan bahwa belum ada rencana formal, dan gagasan tersebut bukan bagian dari program saat ini.
Dari sisi geopolitik yang lebih luas, pembacaan Beijing tidak selalu sejalan dengan Washington. Dalam narasi yang sama, China disebut telah menyiapkan bantalan melalui cadangan, peningkatan produksi domestik, dan pengembangan energi terbarukan, sehingga punya kapasitas menahan tekanan harga energi lebih lama, meski tetap terdampak jika harga bertahan tinggi.
Ke depan, wacana “mengambil minyak” cenderung menambah premi risiko dan memperpanjang ketidakpastian kebijakan. Untuk minyak, retorika yang mengarah pada kontrol paksa atas aset energi dapat menjaga volatilitas tetap tinggi selama isu Hormuz dan eskalasi belum mereda. Untuk emas, peningkatan risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan biasanya menopang permintaan lindung nilai, tetapi ruang kenaikan dapat dibatasi bila ekspektasi suku bunga AS bertahan tinggi akibat inflasi energi. Untuk dolar, arus safe haven berpotensi tetap mendukung penguatan jangka pendek, terutama saat pasar global mengurangi eksposur risiko.
5 Poin Terpenting :
- Trump mengemukakan gagasan mengambil alih minyak Iran dan mengaitkannya dengan manfaat ekonomi/politik bagi AS.
- Di lingkar pembahasannya, kontrol atas energi Iran dipandang bisa menambah leverage AS terhadap China.
- Penutupan efektif/terganggunya Hormuz dalam perang meningkatkan tekanan pasokan dan memperkuat sensitivitas harga energi.
- Operasi penguasaan sektor energi Iran dinilai sangat besar dan berisiko memunculkan pertanyaan hukum serta biaya politik domestik.
- Pejabat Gedung Putih menyebut belum ada rencana formal dan ide itu bukan bagian dari program saat ini.(asd)
Sumber : Newsmaker.id