China Batasi Perdagangan Emas Ritel, Pasar Komoditas Waspadai Volatilitas 24 Juli
Pasar komoditas mulai mencermati perkembangan di China menjelang Jumat, 24 Juli 2026. Perhatian investor terutama tertuju pada berakhirnya layanan perdagangan logam mulia ritel tertentu melalui sejumlah bank besar China, termasuk Industrial and Commercial Bank of China atau ICBC.
ICBC sebelumnya mengumumkan bahwa setelah penyelesaian transaksi pada 24 Juli 2026, bank tersebut akan menghentikan layanan perantara bagi nasabah individu yang memperdagangkan sejumlah produk logam mulia melalui Shanghai Gold Exchange. Produk yang terdampak mencakup beberapa kontrak emas dan perak, termasuk produk yang menggunakan sistem margin atau leverage.
Nasabah yang masih memiliki posisi telah diminta untuk menutup transaksi, menjual kepemilikan, mengambil pengiriman fisik, atau menarik dana dari rekening margin sebelum tenggat tersebut. Setelah layanan dihentikan, akses nasabah untuk melakukan transaksi lanjutan dapat menjadi lebih terbatas.
Kebijakan tersebut kemudian memunculkan rumor bahwa China akan melarang perdagangan emas mulai 24 Juli. Namun, informasi tersebut tidak sepenuhnya tepat. Kebijakan ini bukan larangan nasional terhadap kepemilikan atau perdagangan emas, melainkan penghentian layanan tertentu yang selama ini digunakan investor individu untuk mengakses produk logam mulia di Shanghai Gold Exchange melalui bank.
Perdagangan emas fisik, pembelian perhiasan, investasi melalui produk lain, aktivitas investor institusional, serta transaksi resmi di Shanghai Gold Exchange masih tetap berjalan. Karena itu, langkah tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari upaya pengendalian risiko, terutama setelah volatilitas harga emas dan perak meningkat tajam.
Menjelang tenggat 24 Juli, pasar memperkirakan sebagian investor ritel dapat menutup posisi yang masih terbuka. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan jual jangka pendek pada emas dan perak, khususnya di pasar domestik China. Namun, dampaknya terhadap harga emas global atau XAU/USD belum tentu berlangsung besar dan berkepanjangan.
Hal ini disebabkan pasar emas dunia tidak hanya bergantung pada aktivitas investor ritel China. Pergerakan emas global juga dipengaruhi oleh perdagangan di London dan COMEX, arus dana ke produk exchange-traded fund, permintaan emas fisik, pembelian bank sentral, pergerakan dolar AS, serta imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Jika penutupan posisi di China berlangsung dalam jumlah besar, harga emas dan perak berpotensi menghadapi tekanan sementara. Tekanan tersebut dapat semakin kuat apabila terjadi bersamaan dengan kenaikan dolar AS dan imbal hasil Treasury. Sebaliknya, apabila investor mengalihkan dana dari produk berleverage ke emas fisik atau instrumen lain, permintaan emas dapat tetap terjaga.
Dampak langsung kebijakan ini diperkirakan lebih besar terhadap emas dan perak dibandingkan komoditas lain. Harga minyak, tembaga, aluminium, dan bijih besi tidak terkena secara langsung. Namun, komoditas industri tetap sensitif terhadap arah kebijakan ekonomi China, mengingat negara tersebut merupakan salah satu konsumen komoditas terbesar di dunia.
Selain kebijakan bank terhadap perdagangan emas, investor juga menunggu kemungkinan rapat Politbiro China menjelang akhir Juli. Pertemuan tersebut biasanya menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan ekonomi Beijing untuk semester kedua, termasuk kemungkinan stimulus bagi sektor properti, infrastruktur, manufaktur, dan konsumsi.
Apabila pemerintah China mengumumkan stimulus yang lebih kuat, permintaan terhadap tembaga, minyak, aluminium, dan bijih besi berpotensi meningkat. Sebaliknya, ketiadaan dukungan ekonomi tambahan dapat menekan sentimen terhadap komoditas industri karena pasar masih khawatir terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi China.
Secara keseluruhan, tanggal 24 Juli bukan merupakan awal larangan total perdagangan emas di China. Peristiwa tersebut lebih berkaitan dengan penghentian layanan perdagangan logam mulia ritel tertentu oleh bank-bank China sebagai bagian dari pengendalian risiko.
Pasar tetap perlu mewaspadai potensi volatilitas jangka pendek pada emas dan perak menjelang tenggat tersebut. Namun, arah harga emas global selanjutnya masih akan lebih banyak ditentukan oleh pergerakan dolar AS, kebijakan suku bunga Federal Reserve, imbal hasil obligasi, ketegangan geopolitik, serta permintaan dari investor dan bank sentral.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id