Indeks Dolar Naik Tipis, Pasar Waspadai Nada Hawkish The Fed dan Tekanan dari Mata Uang Saingan
Indeks dolar AS (DXY) bergerak menguat tipis pada perdagangan Selasa, didorong oleh sikap hati-hati investor terhadap arah kebijakan Federal Reserve dan perkembangan ekonomi global yang mulai stabil. Sementara itu, mata uang utama pesaing dolar seperti euro dan yen terlihat melemah terbatas, seiring ketidakpastian arah suku bunga global yang masih membayangi pasar.
Menurut data Investing.com, DXY diperdagangkan di kisaran 98,90–99,60, naik tipis sekitar 0,02% dalam sesi Asia. Penguatan ini menandai upaya dolar mempertahankan momentumnya setelah sempat tertekan pada pekan lalu akibat spekulasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed.
“Investor kini menilai kembali posisi dolar setelah pernyataan The Fed yang lebih berhati-hati terhadap laju pelonggaran moneter. Kekuatan ekonomi AS yang relatif lebih solid dibanding Eropa dan Asia masih menjadi faktor penopang utama,” tulis FXStreet dalam analisanya.
Fundamental: The Fed Waspada, Data Ekonomi Jadi Penentu
Secara fundamental, pasar tengah menunggu rilis lanjutan data inflasi PCE dan ketenagakerjaan AS. Dua indikator ini akan menjadi kunci bagi arah kebijakan moneter selanjutnya. Meskipun inflasi menunjukkan tanda-tanda melandai, pejabat The Fed masih menegaskan pentingnya menjaga suku bunga pada level “restriktif” untuk memastikan harga benar-benar terkendali.
“The Fed tampak enggan memangkas agresif karena tidak ingin kehilangan kredibilitas inflasi yang baru saja dipulihkan,” ujar analis ekonomi JPMorgan, Lisa Bernhardt, kepada Reuters.
Sementara itu, membaiknya hubungan dagang AS–China setelah pertemuan Trump dan Xi di Malaysia turut mendukung optimisme pasar. Namun, bagi dolar, kondisi ini memiliki dua sisi: di satu sisi menekan permintaan aset safe haven, namun di sisi lain menegaskan kestabilan posisi AS di pasar global.
Teknikal: DXY Hadapi Resistance di 100,00 dan Support di 98,50
Dari sisi teknikal, indeks dolar menghadapi resistensi kuat di area 100,00, sementara support terdekat berada di 95,00. Jika level 100,00 berhasil ditembus, peluang penguatan menuju area psikologis 101,00 terbuka lebar. Namun, kegagalan mempertahankan momentum dapat memicu koreksi menuju 98,50–98,00.
Indikator RSI menunjukkan kondisi mendekati area overbought, menandakan potensi penurunan jangka pendek, sementara MA 50 harian masih menopang tren naik menengah.
Hubungan DXY dengan Mata Uang Saingan
Kenaikan dolar menekan beberapa mata uang utama lainnya. EUR/USD turun ke kisaran 1,1569, mencerminkan tekanan terhadap euro akibat prospek ekonomi zona euro yang lemah. USD/JPY menguat menuju 154,00, dengan yen tetap tertekan oleh kebijakan ultra-longgar Bank of Japan. Sementara GBP/USD bergerak datar di kisaran 1,3151, menunggu arah baru dari data inflasi Inggris pekan ini.
“Pergerakan dolar hari ini menunjukkan pasar masih belum siap melepas greenback, terutama di tengah perbedaan arah kebijakan moneter antara AS dan negara-negara G7 lainnya,” tulis Bloomberg Intelligence dalam laporannya.
Implikasi untuk Emas dan Pasar Global
Penguatan dolar cenderung menjadi tekanan bagi harga emas, yang bergerak di sekitar US$4.000 per troy ounce. Namun, sebagian analis menilai momentum kenaikan dolar kali ini bersifat sementara karena pasar masih menantikan kepastian dari kebijakan The Fed.
“Selama ketidakpastian ekonomi global belum hilang, setiap penguatan dolar akan bersifat terbatas. Emas masih berpeluang menguat jika data ekonomi AS melemah,” kata analis Kitco Metals.
Kesimpulan: Dolar Masih Dominan, Tapi Kewaspadaan Meningkat
Secara keseluruhan, indeks dolar masih menunjukkan ketahanan di tengah perubahan kebijakan global. Namun, dengan potensi perlambatan ekonomi dan penurunan inflasi yang lebih cepat dari perkiraan, pasar kini bersiap terhadap kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter di kuartal mendatang.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id