Dow Plunges 800+ Points as Oil Surges, Yields Rise Amid Iran Conflict
Saham-saham AS merosot pada Selasa (3/2), membalikkan pemulihan yang sempat terjadi pada Senin, setelah harga minyak kembali melonjak dan pelaku pasar khawatir perang AS–Iran bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan. Sentimen risk-off mendominasi, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak konflik ke inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Indeks Dow Jones turun 828 poin atau hampir 1,7%, dan sempat tertekan hingga -1.277,93 poin di titik terendah sesi. S&P 500 melemah 1,6%, sementara Nasdaq Composite turun 1,7%. Pada posisi terendah hari itu, S&P 500 sempat anjlok 2,5% dan Nasdaq turun sekitar 2,7%.
Seluruh sektor di S&P 500 ditutup di zona merah pada Selasa. Sektor energi menjadi pengecualian relatif, sementara sektor lain mayoritas turun lebih dari 1%. Materials, industrials, dan consumer discretionary mencatat penurunan terbesar, karena pasar menilai kenaikan harga minyak dan biaya pinjaman (yield) berpotensi menekan ekonomi AS melalui inflasi yang kembali panas dan konsumsi yang melambat.
Sejumlah saham teknologi besar yang sebelumnya memimpin rebound intraday pada Senin—termasuk Nvidia—kembali melemah. Saham-saham memori AS juga berada di bawah tekanan dan berpotensi mengikuti pelemahan signifikan saham chip memori di Korea Selatan. Di sisi korporasi, saham Blackstone jatuh 7% setelah Financial Times melaporkan bahwa dana private credit-nya mencatat net outflow $1,7 miliar pada kuartal pertama.
Ruang “perlindungan” juga terbatas karena emas ikut turun tajam setelah sempat menguat pada Senin. Sementara itu, CBOE Volatility Index (VIX)—indikator “ketakutan” Wall Street—melonjak ke level tertinggi sejak November, menegaskan meningkatnya stres pasar.
Di pasar energi, Brent melesat hampir 8% pada Selasa dan menembus $84 per barel, setelah naik sekitar 6% pada Senin. WTI juga melonjak hampir 8% ke atas $77 per barel, melanjutkan kenaikan 6% pada sesi sebelumnya. Lonjakan harga energi ikut mendorong yield Treasury naik, karena pasar khawatir kenaikan minyak akan menghidupkan kembali inflasi—tepat saat investor AS berharap pemangkasan suku bunga The Fed dapat menopang ekonomi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id