Blokade Jalan, Deal Batal: Emas Tetap Tertekan
Harga emas melemah pada Selasa (21/4), mencatat penurunan harian terdalam dalam lebih dari dua pekan, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran meski rencana pembicaraan diplomatik kedua negara dibatalkan. Bullion sempat turun hingga 3,1% sebelum memangkas sebagian pelemahan, sementara pasar menilai blokade AS di Selat Hormuz tetap menjaga risiko energi dan inflasi.
Tekanan pada emas datang dari penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil Treasury, yang meningkatkan biaya peluang memegang aset non-yielding. Di saat yang sama, minyak masih bertahan di atas US$90 per barel, menjaga tekanan inflasi yang dapat mendorong bank sentral menahan suku bunga lebih lama atau tetap hawkish, sehingga membatasi ruang pemulihan emas.
Sentimen juga dipengaruhi narasi kebijakan The Fed. Calon Ketua The Fed Kevin Warsh menyerukan kerangka baru untuk menghadapi inflasi persisten, tanpa merinci implikasi suku bunga. Pasar menilai Warsh cenderung lebih ketat pada inflasi dan kecil kemungkinan mengikuti dorongan pemangkasan agresif, sehingga jalur penurunan suku bunga berpotensi lebih bertahap.
Ketidakpastian geopolitik tetap tinggi. Trump menyatakan gencatan senjata diperpanjang sampai proposal Iran diajukan dan pembahasan diselesaikan, namun blokade Hormuz tetap berjalan. Dinamika ini memperpanjang risiko gangguan pasokan energi dan memperkuat volatilitas lintas aset—yang dapat memicu reposisi dan deleveraging di pasar logam mulia.
Pada penutupan New York, spot gold turun 2,1% ke US$4.720,04/oz (pukul 16:59). Perak turun tipis 0,036% ke US$76,70/oz, sementara platinum dan palladium juga melemah. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,4%.
Ke depan, pasar akan memantau sinyal konkret kelanjutan pembicaraan AS–Iran, perkembangan implementasi blokade Hormuz dan dampaknya pada minyak, serta arah dolar dan yield AS yang menjadi penentu utama untuk emas dalam jangka pendek.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id