Emas Stabil, Tapi Risiko Hormuz Masih Menggantung
Harga emas melanjutkan pelemahan dua hari, namun bergerak stabil pada Rabu (22/4) setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran meski rencana putaran baru pembicaraan damai gagal terwujud. Bullion diperdagangkan di kisaran US$4.720/oz pada awal sesi Asia, setelah jatuh lebih dari 2% sehari sebelumnya.
Trump mengatakan AS akan menahan serangan lanjutan sampai Iran mengajukan proposal baru dan pembahasan “diselesaikan, satu cara atau lainnya.” Di saat yang sama, Selat Hormuz masih tertutup bagi pelayaran komersial, dengan Iran menyatakan tidak akan membuka jalur tersebut selama AS mempertahankan blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar dari wilayah Iran. Kondisi ini menjaga harga minyak bertahan, memperkuat kanal inflasi energi yang cenderung menahan minat pada emas karena meningkatkan peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama.
Dari sisi pasar, dolar yang menguat pada sesi sebelumnya juga menambah tekanan pada emas yang dihargai dalam greenback. Analis menilai emas kini cenderung bergerak dalam rentang sempit karena pasar sudah banyak “mem-price-in” tingkat risiko geopolitik saat ini, dan membutuhkan pemicu baru—eskalasi yang jelas atau perubahan makro yang tegas—untuk mendorong re-rating. Ketidakpastian kebijakan moneter ikut membayangi setelah calon Ketua The Fed Kevin Warsh menekankan independensi dan menyerukan kerangka baru menghadapi inflasi persisten, memperkuat persepsi kebijakan akan cenderung hati-hati.
Pada 07:08 waktu Singapura, spot gold naik tipis 0,1% ke US$4.723,70/oz. Perak naik 0,3% ke US$76,96/oz, sementara platinum dan palladium relatif stabil. Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,1%.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id