Tekanan Turun di Tengah Harapan Damai & Lonjakan Produksi
Harga Brent melemah tipis menjadi $66,30 per barel di sesi perdagangan pagi Asia, mengingat pasar menanti kemungkinan pembicaraan damai trilateral antara Rusia, Ukraina, dan AS—yang bisa mengurangi ketegangan dan membuka kembali ekspor minyak Rusia secara lebih luas.
Stabilitas pasokan Rusia turut mendukung tekanan turun harga, karena risiko gangguan berkurang.
Premium harga (time spread) menyempit karena pasokan global meningkat dan permintaan musim panas mereda. OPEC+ direncanakan menaikkan produksi pada September, dan beberapa produsen seperti Brazil, Guyana, dan Norway juga memperluas produksi.
Data dari China menunjukkan terus berlanjutnya akumulasi stok—penimbunan minyak meski kapasitas pengolahan meningkat—yang bisa menekan permintaan impor lebih lanjut jika harga merangkak tinggi.
Proyeksi EIA menunjukkan harga Brent bakal turun di bawah $60/barel kuartal IV 2025, dengan rata-rata tetap rendah menuju $50/barel di 2026—karena kelebihan pasokan global yang signifikan.
Sebagian besar moving averages (5-,10-,20-,50-,100-,200-hari, baik SMA maupun EMA) memberi sinyal Sell — menandakan bias teknikal jangka menengah–panjang bearish.
RSI di angka 40,13 → netral, sementara MACD negatif namun memberi sinyal Buy minor. Pivot point klasik sekitar $67,05.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id