Geopolitik Mereda tapi Bank Sentral Masih Jadi Penopang Emas
Harga emas dunia pada perdagangan pagi ini cenderung bergerak melemah setelah sentimen safe-haven mereda akibat perkembangan positif di panggung geopolitik. Meski demikian, dukungan dari pembelian bank sentral global masih memberikan fondasi penguatan bagi logam mulia tersebut dalam jangka menengah.
Secara fundamental, pasar merespons kabar bahwa Amerika Serikat membatalkan rencana tarif 39 persen untuk impor batangan emas dari Swiss. Langkah ini meredakan kekhawatiran pasar yang sebelumnya memicu lonjakan harga. Selain itu, pembicaraan antara AS dan Rusia yang berujung pada penurunan tensi turut menekan permintaan emas sebagai aset pelindung nilai.
Di sisi lain, aksi beli besar-besaran oleh bank sentral di berbagai negara tetap menjadi faktor pendukung harga. Namun, para analis menilai, dalam jangka pendek emas berpotensi bergerak dalam kisaran harga sempit hingga muncul pemicu baru yang lebih kuat.
Dari sudut pandang teknikal, harga emas kini berada di sekitar level US$ 3.30 per troy ounce. Mayoritas indikator moving average (MA) jangka menengah hingga panjang menunjukkan sinyal jual, sementara indikator momentum seperti RSI berada di level 40–64, mengindikasikan potensi tekanan lanjutan jika harga menembus support di US$ 3.330. Resistance terdekat berada di kisaran US$ 3.370–3.400.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar disarankan untuk memperhatikan level-level teknikal kunci, karena penembusan ke bawah US$ 3.340 dapat membuka peluang penurunan lebih lanjut, sementara bertahan di atas US$ 3.370 bisa menjaga peluang konsolidasi atau penguatan terbatas.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id