Harga Emas kok Malah Turun di Tengah Perang Israel-Iran ?
Seperti yang sudah diketahui banyak orang emas merupakan salah satu aset save haven atau lindung nilai yang paling banyak di cari ditengah ketidakpastian geopolitik, salah satunya adalah perang. Tetapi yang terjadi pada beberapa hari terakhir justru sebaliknya. Kenapa demikian? Mari kita bahas alasannya satu persatu :
1. Gencatan Senjata Meredakan Kekhawatiran
Pengumuman gencatan senjata Israel–Iran oleh Trump melemahkan permintaan safe‑haven, karena pasar menilai konflik tak semudah diperdiksi. Harga emas langsung turun ke level terendah dua minggu. Disisi lain Reli pasar saham dan penurunan harga minyak adalah tanda berkurangnya ketegangan geopolitis, sehingga investor beralih dari emas ke aset risiko .
2. Penguatan Dolar AS
Dolar kembali kuat karena investor kembali masuk ke aset-aset dolar, mengurangi permintaan terhadap emas. Penguatan DXY sekitar 0,3–0,5% memberi tekanan langsung pada XAU karena emas dianggap lebih mahal untuk pemegang mata uang lain.
3. Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Pasar saat ini tidak terlalu yakin bahwa Federal Reserve akan segera menurunkan suku bunga.Suku bunga yang tinggi membuat emas kurang menarik, karena emas tidak memberikan imbal hasil (yield), berbeda dengan obligasi AS yang jadi lebih menarik saat suku bunga tinggi.
4. Tidak Ada Eskalasi Nyata Setelah Konflik
Konflik Timur Tengah sering kali memicu lonjakan harga emas, hanya jika ada eskalasi nyata seperti serangan lanjutan, retaliasi besar, keterlibatan negara besar secara langsung. Tapi dalam kasus ini, pasar melihat situasinya masih terkendali pasca pernyataan gencatan senjata.
5. Penurunan Permintaan Fisik
Di beberapa negara pengimpor besar (seperti India & Tiongkok), permintaan emas fisik melambat karena, harga emas sebelumnya terlalu tinggi, adanya regulasi impor/pajak, pelemahan daya beli.
Kesimpulannya adalah Walau secara teori perang = naiknya harga emas, pasar masih harus melihat konteks lebih dalam: apakah konflik benar-benar eskalatif, apakah dolar sedang naik, bagaimana arah Fed, dan di mana investor merasa “lebih aman” saat itu.
Sumber : (mrv@Newsmaker)