• Tue, Jun 23, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

23 June 2026 07:50  |

Emas Menunggu Ledakan Arah, Ini Skenarionya!

Harga emas saat ini masih tertahan di dekat area psikologis US$4.200 per troy ounce. Secara teknikal, area ini menjadi batas penting karena emas belum mampu bergerak jauh dari zona tersebut. Support terdekat berada di US$4.180, lalu US$4.165, US$4.140, dan US$4.120. Sementara resistance terdekat ada di US$4.200–US$4.220, kemudian US$4.245 dan US$4.265. Namun, untuk minggu ini arah emas tidak hanya ditentukan oleh tensi perang, tetapi juga oleh data PCE Amerika Serikat dan bagaimana pasar membaca dampaknya terhadap inflasi, dolar AS, serta ekspektasi suku bunga The Fed.

Skenario pertama, jika data PCE keluar lebih rendah dari perkiraan atau secara teori “good for gold”, tetapi di saat yang sama geopolitik makin panas, ada serangan baru, atau gencatan senjata AS-Iran terganggu, emas belum tentu langsung terbang tinggi. PCE yang rendah memang bisa menekan ekspektasi kenaikan suku bunga dan mendukung emas. Namun, jika serangan baru membuat harga minyak melonjak, pasar bisa kembali takut inflasi energi naik. Dalam kondisi seperti ini, dolar AS bisa ikut menguat karena investor menilai The Fed tidak akan cepat memangkas suku bunga. Jadi, emas berpotensi bergerak sangat volatil: sempat naik ke US$4.220–US$4.245 karena reaksi safe haven, tetapi rawan turun lagi jika dolar dan yield obligasi AS menguat.

Dalam skenario pertama ini, area yang perlu dipantau adalah US$4.200. Jika emas gagal bertahan di atas US$4.200–US$4.220, maka kenaikan hanya bersifat reaksi sesaat. Tekanan jual bisa membawa emas kembali turun ke US$4.180 dan US$4.165. Jika level US$4.165 ditembus, target koreksi berikutnya ada di US$4.140. Namun, jika konflik benar-benar berubah menjadi kepanikan besar dan pasar lebih memilih safe haven dibanding dolar, barulah emas punya peluang menembus US$4.245 dan mengarah ke US$4.265–US$4.300. Jadi, kuncinya bukan sekadar “perang panas”, tetapi apakah perang itu lebih mendorong kepanikan safe haven atau justru lebih mendorong inflasi dan penguatan dolar.

Untuk minyak pada skenario pertama, arah lebih jelas cenderung naik. Jika geopolitik memanas lagi, terutama menyangkut Selat Hormuz, WTI yang berada di sekitar US$74 berpotensi naik ke US$76,50–US$78 terlebih dahulu. Jika pasar melihat risiko pasokan benar-benar terganggu, WTI bisa menguji US$80–US$82. Sementara Brent yang berada di sekitar US$78 berpotensi kembali ke US$80–US$82,30. Jika eskalasi makin serius, Brent bisa naik ke US$84–US$86, bahkan mendekati US$90 jika ada gangguan nyata pada jalur tanker. Kenaikan minyak inilah yang berpotensi menjadi beban bagi emas karena pasar akan kembali menghitung risiko inflasi.

Skenario kedua, jika data PCE keluar lebih tinggi dari perkiraan atau “bad for gold”, lalu geopolitik juga makin panas, maka tekanan terhadap emas bisa lebih kuat. PCE yang tinggi akan membuat pasar semakin yakin bahwa The Fed harus mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lagi. Jika pada saat yang sama minyak naik karena perang memanas, tekanan inflasi akan terlihat semakin berat. Kombinasi ini dapat membuat dolar AS dan yield obligasi menguat, sehingga emas yang tidak memberikan imbal hasil bisa turun meskipun ada risiko perang. Dalam skenario ini, emas berisiko turun dari area US$4.190 menuju US$4.165, lalu US$4.140. Jika tekanan dolar sangat kuat, area US$4.120 hingga US$4.085 bisa kembali diuji.

Kesimpulannya, untuk kondisi market saat ini, geopolitik panas tidak otomatis berarti emas naik. Kalau konflik membuat minyak melonjak dan inflasi kembali ditakuti, emas justru bisa tertekan karena dolar AS dan ekspektasi suku bunga ikut naik. Skenario paling bearish bagi emas adalah PCE tinggi ditambah minyak naik akibat perang, karena dua-duanya mengarah ke The Fed yang lebih hawkish. Sementara minyak cenderung lebih mudah naik dalam dua skenario jika ada eskalasi nyata, dengan target WTI di US$78–US$82 dan Brent di US$82–US$86. Untuk emas, level kunci tetap US$4.200 di atas dan US$4.165 di bawah. Jika US$4.165 jebol, bias emas berubah lebih bearish. Jika US$4.220–US$4.245 ditembus kuat, baru emas punya peluang melawan tekanan dolar.(asd)*

Sumber: Newsmaker.id

Related News

ANALYSIS & OPINION

Jenewa Hari Ini: AS–Iran: Satu Berita Utama Dapat Menggunc...

Putaran kedua pembicaraan nuklir AS–Iran diadakan hari ini di Jenewa, Swiss, dengan saluran komunikasi dimediasi oleh Oman....

17 February 2026 10:34
ANALYSIS & OPINION

Sikap Hati-Hati Investor Lemahkan Emas

Para pejabat The Fed tadi malam mengatakan bahwa mereka masih tetap bersabar untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%...

29 May 2025 09:18
ANALYSIS & OPINION

$5.000 Ditembus! Investor Kabur dari Dolar & Obligasi

Harga emas menembus $5.000 per ons dan mencetak rekor baru di awal pekan, saat investor berbondong-bondong mencari aset aman ...

26 January 2026 11:35
ANALYSIS & OPINION

Prospek 2026: 4 Aset, 1 Pertanyaan Besar—Risk On atau Risk...

Arah pasar keuangan global pada 2026 diperkirakan ditentukan oleh kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat, tren penurunan...

28 December 2025 12:20
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai