Aussie Melemah Terseret Penguatan Dolar AS
Dolar Australia kembali melemah pada perdagangan terbaru Selasa (23/06) dan bergerak di bawah level US$0,69. Pelemahan ini membawa Aussie menyentuh level terendah dalam sebelas minggu terakhir, seiring penguatan dolar Amerika Serikat yang masih berlanjut. Tekanan terhadap mata uang Australia juga meningkat karena pelaku pasar bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi dan tenaga kerja domestik pekan ini.
Data inflasi Australia menjadi perhatian utama karena dapat memberi petunjuk apakah Reserve Bank of Australia atau RBA sudah selesai menaikkan suku bunga atau masih perlu melanjutkan kebijakan ketat. Inflasi utama pada Mei diperkirakan naik menjadi 4,4% dari 4,2% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi inti diperkirakan naik tipis menjadi 3,5% dari 3,4%, yang berarti tekanan harga masih berada jauh di atas target bank sentral.
Selain inflasi, pasar juga menantikan data tenaga kerja Australia. Jumlah pekerjaan baru pada Mei diperkirakan bertambah sekitar 25.000, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan turun ke 4,4% setelah sebelumnya mencapai 4,5%, level tertinggi dalam empat setengah tahun terakhir. Setelah data inflasi dirilis, Deputi Gubernur RBA Andrew Hauser dijadwalkan memberikan pandangan mengenai prospek inflasi, sehingga pernyataannya berpotensi memengaruhi arah Aussie selanjutnya.
Di sisi lain, tekanan terhadap dolar Australia juga datang dari penguatan dolar AS. Greenback terus mendapat dukungan karena pasar memperkirakan Federal Reserve atau The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini, setelah sejumlah pejabat bank sentral memberikan nada hawkish. Meski begitu, pelemahan Aussie sedikit tertahan oleh tanda-tanda awal kemajuan dalam negosiasi damai Amerika Serikat dan Iran, yang membantu menjaga minat terhadap aset berisiko. (asd)
Sumber: Newsmaker.id