Minyak Naik Stabil Hari Ini: Iran Dorong “Risk Premium”, Tapi Venezuela Jadi Rem
Harga minyak bergerak stabil pada perdagangan Selasa (13/1), didorong kekhawatiran gangguan pasokan dari Iran. Brent naik sekitar 0,4% ke $64,15/barel, sementara WTI menguat 0,5% ke $59,78/barel—WTI bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak awal Desember.
Dari sisi fundamental, pasar sedang memasang “premi geopolitik” karena protes besar di Iran memicu spekulasi respons lebih keras dari AS. Reuters melaporkan analis Barclays memperkirakan ketegangan ini menambah premi risiko sekitar $3–$4 per barel pada harga minyak. Faktor ini yang membuat minyak tetap ditopang meski sentimen global masih campur aduk.
Namun, kenaikan minyak belum lepas karena ada “penahan” dari Venezuela. Pasar juga menghitung potensi tambahan pasokan jika ekspor Venezuela kembali mengalir—bahkan disebut AS bisa menerima hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya tersanksi. Artinya, narasi hari ini masih tarik-menarik: Iran mengerek harga, Venezuela menahan reli.
Dari sisi teknikal, perhatian terbesar ada di WTI area $60. Level ini jadi batas psikologis: kalau WTI mampu tembus dan bertahan di atas $60, ruang naik biasanya terbuka ke area $60,6–$61. Tapi kalau gagal menembus, WTI rawan profit taking turun kembali ke $59,2–$59,0. (Konteksnya, WTI saat ini masih di bawah $60 meski momentumnya membaik.)
Untuk Brent, harga sedang menguji area atas $64 dan mendekati puncak jangka pendek. Resistance terdekat ada di $64,4–$64,5, lalu $65 sebagai target psikologis berikutnya jika headline Iran makin memanas. Sebaliknya, kalau pasar kembali fokus pada tambahan supply Venezuela atau tensi mereda, Brent berpotensi melemah ke $63,8 lalu $63,4–$63,0.
Ke depan, pelaku pasar juga akan memantau data persediaan minyak AS (weekly report) yang menjadi katalis pergerakan intraday berikutnya. EIA juga mencatat perubahan sistem rilis data mingguan mulai awal Januari 2026, jadi pasar biasanya lebih sensitif pada jadwal dan detail publikasinya.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id