Nikkei terpukul saat minyak naik; risiko inflasi mengaburkan jalur kebijakan BOJ
Saham Jepang melemah tajam pada Selasa, dengan Nikkei 225 turun 3,06% ke 56.279 dan Topix terkoreksi 3,24% ke 3.772, memperpanjang tekanan dari sesi sebelumnya ketika eskalasi di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi dan memperkuat kekhawatiran inflasi global.
Tekanan ini menempatkan Jepang pada kombinasi yang tidak nyaman: risiko pertumbuhan yang melambat bersamaan dengan tekanan harga yang tetap bertahan. Bagi pasar, lonjakan energi bukan sekadar isu komoditas ia langsung menyasar neraca impor energi Jepang, menekan daya beli rumah tangga, dan berpotensi memperumit disinflasi yang diharapkan.
Di sisi kebijakan, narasi menjadi semakin “dua arah”. Deputi Gubernur BOJ Ryozo Himino sebelumnya menyampaikan bank sentral berniat melanjutkan kenaikan suku bunga secara bertahap menuju stance yang lebih netral, sejalan dengan penilaian bahwa inflasi dasar bergerak naik meski belum “pasti” bertahan di 2%. Namun, eskalasi geopolitik dan gejolak pasar belakangan membuat sebagian pelaku pasar menilai BOJ berpotensi lebih berhati-hati; Reuters melaporkan sumber-sumber yang menyebut peluang BOJ menahan suku bunga pada pertemuan 18–19 Maret meningkat, dengan ekspektasi kenaikan bergeser ke April.
Penurunan di bursa Tokyo bersifat luas. Hampir semua sektor ikut melemah, dengan tekanan terlihat pada saham-saham berkapitalisasi besar mulai dari manufaktur dan otomotif hingga teknologi mencerminkan repricing cepat terhadap risiko biaya energi, margin, dan permintaan global.
Yang akan dipantau pasar dari sini bukan hanya arah Nikkei, melainkan indikator transmisi: apakah reli minyak bertahan (dan sejauh mana memicu kekhawatiran inflasi), respons yen terhadap risk-off, serta nada BOJ yang menyeimbangkan normalisasi kebijakan dengan risiko “stagflation-lite” domestik.(Cp)
Sumber: Newsmaker.id