Jika Powell Benar-benar Tersingkir, Dolar Bisa “Kehilangan Aura”—Emas Makin Jadi?
Ketegangan antara Gedung Putih dan Federal Reserve (The Fed) kembali mengguncang pasar setelah muncul kabar penyelidikan/ancaman tuntutan hukum terhadap Ketua The Fed Jerome Powell—isu yang oleh banyak pelaku pasar dibaca sebagai tekanan politik terhadap bank sentral. Reaksi awalnya sudah terlihat: dolar melemah, sementara emas melonjak ke rekor baru karena investor mencari aset aman.
Namun pertanyaan terbesar investor sekarang adalah: apa yang terjadi kalau Trump benar-benar berhasil “menurunkan” Powell lewat jalur hukum? Dalam skenario itu, fokus pasar bukan cuma siapa pengganti Powell, tapi yang lebih sensitif: apakah independensi The Fed dianggap sudah bisa diintervensi. Di mata pasar global, independensi bank sentral adalah salah satu fondasi kepercayaan terhadap dolar dan aset AS.
Dolar: berpotensi melemah lebih dalam (setidaknya di awal)
Kalau Powell benar-benar tersingkir, reaksi pertama yang paling mungkin adalah USD tertekan. Alasannya sederhana: investor akan menambah “premi risiko” untuk aset AS jika kebijakan suku bunga dipersepsikan lebih politis. Reuters juga melaporkan dolar sempat “wobbles” (goyang) di tengah kekhawatiran pasar soal ancaman terhadap independensi The Fed.
Dalam fase berikutnya, pasar bisa mulai mempertanyakan peran dolar sebagai safe haven utama. Financial Times menyebut munculnya semacam “debasement trade”—ketakutan nilai uang tergerus jika pasar menilai tekanan politik bisa mendorong suku bunga terlalu rendah atau memicu inflasi jangka panjang—yang biasanya tidak ramah terhadap dolar.
Emas: peluang lanjut kuat, tapi volatilitas makin liar
Untuk emas, skenario Powell tersingkir cenderung bullish karena dua hal terjadi sekaligus: (1) ketidakpastian institusi meningkat (risk-off), dan (2) pasar bisa menilai peluang suku bunga lebih rendah/risiko inflasi lebih tinggi ikut naik. Itu sebabnya saat isu tekanan terhadap The Fed memanas, emas sudah sempat melonjak ke rekor di kisaran $4.600/oz menurut laporan Reuters dan FT.
Meski begitu, jalannya tidak akan mulus. Emas bisa naik cepat lalu koreksi jika muncul sinyal de-eskalasi (misalnya proses hukum macet atau ada kompromi politik), atau jika data inflasi AS mengejutkan dan memaksa pasar kembali memikirkan “suku bunga tinggi lebih lama”.
Cara investor melihatnya: “ini serius”, tapi prosesnya tidak gampang
Di komunitas investor, ada dua kubu besar. Kubu pertama menganggap ini sangat serius karena menyentuh kredibilitas The Fed; AP menekankan independensi The Fed historisnya penting untuk menjaga stabilitas dan mengendalikan inflasi, dan upaya mempolitisasi bank sentral bisa membuat pasar tidak nyaman.
Kubu kedua menilai pasar masih relatif “tenang” karena menganggap pencopotan Powell lewat jalur hukum tidak mudah dan bisa berlarut di pengadilan. Secara aturan, anggota Dewan Gubernur Fed (termasuk ketua) dapat “removed for cause”, tetapi standar “cause” ini tidak didefinisikan jelas dan belum pernah diuji dengan preseden pencopotan langsung oleh presiden, sehingga risikonya justru masuk kategori ketidakpastian hukum.
Ekonom juga mulai angkat suara. Kepala ekonom Goldman Sachs, Jan Hatzius, memperingatkan ancaman tuntutan pidana terhadap Powell dapat memperbesar kekhawatiran independensi The Fed—meski ia menilai keputusan The Fed tetap akan berbasis data.
Yang perlu dipantau investor (biar nggak “ketipu noise”)
Arah proses hukum (apakah benar mengarah ke pencopotan, atau justru mentok di pembuktian “for cause”).
Sinyal calon pengganti (apakah pasar melihatnya lebih “pro pemangkasan suku bunga”).
Data inflasi AS & ekspektasi suku bunga (karena ini yang akhirnya menggerakkan dolar, yield, dan emas).(mrv)
Sumber : Newsmaker.id