Perak Bertahan Dekat Rekor Tertinggi, Pasar Waspadai Fase Konsolidasi
Harga perak dunia masih bertahan di dekat rekor tertingginya setelah reli tajam dalam beberapa pekan terakhir. Setelah sempat melonjak puluhan persen dalam waktu relatif singkat, pergerakan perak hari ini cenderung lebih kalem dengan pola naik–turun di kisaran sempit. Pelaku pasar mulai melakukan profit taking jangka pendek, namun tren besar masih condong ke arah bullish.
Dari sisi fundamental, penguatan perak belakangan ini tidak lepas dari ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Prospek suku bunga yang lebih rendah ke depan membuat imbal hasil riil turun dan kembali meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai. Seiring dengan itu, kekhawatiran perlambatan ekonomi global juga mendorong sebagian investor melakukan diversifikasi portofolio ke emas dan perak.
Selain faktor moneter, perak juga ditopang oleh permintaan industri yang kuat. Penggunaan perak dalam panel surya, perangkat elektronik, hingga industri kendaraan listrik menjaga prospek jangka menengah–panjang tetap positif. Kombinasi antara sentimen “safe haven” dan kebutuhan industri inilah yang membuat perak masih menarik, meski harganya sudah berada di zona tinggi. Namun di sisi lain, posisi harga yang sudah jauh naik membuka ruang koreksi sewaktu-waktu jika sentimen pasar berubah.
Secara teknikal, tren besar perak masih menunjukkan kecenderungan naik. Pola pergerakan harga mengindikasikan bahwa reli sebelumnya telah menembus area resisten penting dan membentuk level harga baru di kisaran atas. Selama harga bertahan di atas area support kunci $56,6, struktur bullish ini dinilai masih terjaga. Di sisi lain, area sekitar puncak terbaru menjadi zona resisten kuat yang berpotensi memicu aksi profit taking lanjutan jika belum mampu ditembus secara meyakinkan.
Dalam jangka pendek, pasar perak berpotensi bergerak dalam pola konsolidasi: harga berfluktuasi di antara zona support dan resistance sambil menunggu pemicu baru dari data ekonomi Amerika Serikat maupun pernyataan bank sentral. Penguatan dolar AS atau kenaikan imbal hasil obligasi dapat menjadi faktor penekan, sementara data yang mendukung skenario pelonggaran kebijakan moneter akan kembali menjadi bahan bakar bagi tren naik. Bagi pelaku pasar, fase saat ini menuntut kewaspadaan lebih tinggi mengingat volatilitas yang tetap besar dan posisi harga yang sudah relatif tinggi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id