Dolar AS Melemah, Yield Dekat 4%, Apa Artinya untuk Emas?
Indeks dolar AS (DXY) bergerak melemah di awal perdagangan hari ini, setelah dalam beberapa sesi terakhir tertekan oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Data ekonomi AS yang cenderung melambat membuat investor mulai mengurangi kepemilikan dolar dan beralih ke aset lain. Di saat yang sama, pelaku pasar suku bunga masih menilai peluang pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan cukup besar, sehingga arah pergerakan dolar menjadi lebih rapuh dan sensitif terhadap setiap rilis data baru maupun komentar pejabat The Fed.
Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS mulai stabil setelah periode volatil yang cukup tajam. Yield obligasi tenor 10 tahun bergerak di sekitar area psikologis 4%, jauh di bawah puncak beberapa waktu lalu yang mendekati 4,8%. Yield tenor 2 tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed, juga cenderung turun dibandingkan level puncaknya, meski sesekali mengalami rebound pendek. Pola ini menunjukkan pasar obligasi mulai mem–price in skenario suku bunga yang sudah mendekati puncak siklus, dengan ruang yang lebih besar ke depan untuk pemangkasan dibanding kenaikan.
Bagi emas, kombinasi dolar yang melemah dan yield yang cenderung turun dari puncaknya merupakan kabar relatif positif. Pelemahan dolar membuat harga emas menjadi lebih menarik bagi pemegang mata uang lain, sementara turunnya yield menekan daya tarik aset berbunga dibanding logam mulia. Alhasil, meski emas bisa saja mengalami koreksi teknikal setelah reli kuat, secara fundamental sentimen hari ini masih cenderung mendukung emas untuk tetap bertahan di level tinggi. Jika ke depan data inflasi dan ketenagakerjaan AS kembali menguatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga, emas berpotensi melanjutkan tren naik; sebaliknya, jika data justru menguat dan dolar kembali menguat, emas rawan mengalami tekanan jual jangka pendek.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id