Minyak Global Goyah, Permintaan Lesu & Produksi Membludak
Harga minyak dunia diperdagangkan sedikit menguat pada sesi perdagangan Rabu, dengan pelaku pasar masih mengkaji kombinasi sentimen negatif dari meningkatnya pasokan global serta pelemahan permintaan energi akibat perlambatan ekonomi internasional. Minyak mentah Brent dan WTI saat ini berada di kisaran US$ 62–63 per barel, mencerminkan tekanan terus-menerus setelah beberapa hari penurunan beruntun. Kekhawatiran pasar semakin kuat setelah laporan terakhir menunjukkan produksi dari negara-negara non-OPEC+ terus bertumbuh, sementara kebijakan pemangkasan produksi dari OPEC+ dianggap belum cukup untuk menyeimbangkan pasar.
Dari sisi permintaan, perlambatan aktivitas manufaktur di AS, Eropa, dan China membuat outlook konsumsi minyak global melemah. Ekspektasi bahwa ekonomi dunia bergerak menuju fase pertumbuhan rendah turut menurunkan prospek jangka menengah minyak. Selain itu, kabar mengenai intensifikasi pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina meningkatkan probabilitas pelonggaran sanksi energi, yang bisa membuka kembali suplai minyak Rusia ke pasar global. Hal ini semakin menambah tekanan terhadap harga dan mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini menopang pasar energi.
Secara teknikal, minyak brent saat ini bergerak dalam kondisi downtrend namun mendekati area support kuat di kisaran US$ 60–61. Jika zona support tersebut bertahan, ada potensi rebound menuju US$ 64–66 dan resistance selanjutnya di US$ 68 per barel. Level resistance ini menjadi penentu arah jangka menengah: jika ditembus, minyak berpotensi berbalik bullish menuju US$ 72–74. Namun, jika tekanan jual berlanjut dan support pecah, minyak berpotensi turun ke US$ 58–59, membuka ruang koreksi yang lebih dalam.
Dengan likuiditas pasar yang cenderung rendah menjelang libur akhir tahun, analis memperingatkan kemungkinan volatilitas tajam jika ada katalis fundamental baru seperti keputusan produksi OPEC+, konflik geopolitik, atau data ekonomi makro yang mengejutkan. Untuk saat ini, prospek minyak dikategorikan sebagai stabil–bearish, dengan pasar menunggu pemicu arah baru dari data manufaktur global serta pembaruan kebijakan produksi energi internasional.
Pasar minyak berada dalam situasi yang sangat sensitif, di mana risiko penurunan masih dominan namun peluang rebound teknikal tetap terbuka. Pelaku pasar menilai bahwa tren berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan data makro yang akan dirilis pekan mendatang. Sementara itu, investor dan pelaku industri energi diimbau untuk berhati-hati karena harga minyak dapat berubah cepat akibat dinamika sentimen global.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id