• Thu, Jan 15, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Indonesia News Portal for Traders | Financial & Business Updates

19 November 2025 12:28  |

Ancaman Krisis Energi! Aksi OPEC+ dan Konflik Timur Tengah Bisa Bikin Brent Balik Arah

Harga kontrak berjangka untuk Brent crude oil hari ini berada di kisaran US$ 64,61 per barel, melemah sekitar 0,43 % dari hari sebelumnya.

Penurunan ini terdorong oleh data persediaan minyak dan produk olahan di Amerika Serikat yang meningkat, memperkuat sinyal bahwa pasokan global mulai melampaui permintaan.

Sementara itu, laporan dari International Energy Agency (IEA) mengungkap bahwa suplai minyak global pada tahun 2025 telah tumbuh sekitar 3,1 juta barel per hari, dan akan terus bertambah hingga 2,5 juta barel per hari di 2026.

Hal ini menciptakan sebuah skenario pasar dengan kelebihan pasokan (oversupply) yang signifikan, yang menjadi salah satu tekanan utama terhadap harga.

Di satu sisi, permintaan minyak mencatat pertumbuhan yang relatif tipis. Laporan IEA mencatat bahwa pertumbuhan permintaan global untuk kuartal ketiga 2025 hanya sekitar +920 ribu barel per hari — meskipun membaik dibanding kuartal sebelumnya, tetap jauh lebih moderat dibanding periode-normal.

Di sisi lain, pasokan minyak global terus meningkat secara agresif. Baik produsen dari blok non-OPEC maupun anggota OPEC+ telah melonggarkan pengurangan produksi mereka, serta proyek-besar yang tertunda akibat pandemi kini mulai berproduksi. Misalnya, analis dari Goldman Sachs memperkirakan harga Brent rata‐rata hanya US$ 56 per barel pada 2026 akibat lonjakan pasokan.

Faktor geopolitik—seperti serangan terhadap fasilitas ekspor Rusia atau potensi sanksi—ternyata hanya memberikan efek jangka pendek, tidak cukup untuk mengimbangi lonjakan stok dan pertumbuhan pasokan.

Dengan latar belakang seperti itu, pasar menghadapi dua sisi mata‐uang:

Risiko penurunan harga menjadi nyata jika data persediaan terus naik atau pertumbuhan permintaan gagal membaik.

Namun, potensi untuk lonjakan harga mendadak tetap ada—terutama jika terjadi gangguan pasokan besar, misalnya dari Rusia atau kawasan Timur Tengah.

Analisis teknikal menunjukkan bahwa harga saat ini berada di kisaran level konsolidasi. Jika harga gagal menembus level atas dan data persediaan tetap menunjukkan kenaikan, maka kemungkinan penurunan lebih lanjut terbuka. Sebaliknya, jika ada pemicu external kuat (gangguan produksi, sanksi baru), maka rebound bisa terjadi.

Singkatnya, pasar minyak saat ini berada di kondisi yang agak hati‐hati:

Dominasi oleh baik tekanan pasokan yang meningkat maupun pertumbuhan permintaan yang lemah.

Harga Brent masih memiliki ruang untuk turun lebih lanjut jika kondisi tetap seperti sekarang.

Namun, volatilitas tetap tinggi—pelaku pasar harus siap hadapi skenario “bounce up” jika ada kejutan.

Bagi investor atau pelaku pasar komoditas: penting untuk menjaga fleksibilitas dan memantau secara dekat data persediaan, kebijakan produksi OPEC+, serta potensi gangguan geopolitik.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

ANALYSIS & OPINION

Sikap Hati-Hati Investor Lemahkan Emas

Para pejabat The Fed tadi malam mengatakan bahwa mereka masih tetap bersabar untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%...

29 May 2025 09:18
ANALYSIS & OPINION

6 Poin Deklarasi KTT BRICS di Rusia: 'Tekan' Dolar-Perang Ti...

Negara-negara BRICS menyetujui komunike bersama pada Rabu (23/10/2024) selama pertemuan puncak tiga hari kelompok tersebut di...

25 October 2024 22:58
ANALYSIS & OPINION

Semua Langkah Kebijakan Trump Berikan Dorongan Untuk Logam K...

Donald Trump yang resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat pada tanggal 20 Januari 2025 lalu telah merealisasikan bebe...

7 February 2025 09:28
ANALYSIS & OPINION

Amerika Berencana Jual Cadangan Emasnya, Apa Bisa Picu Korek...

Berita mengejutkan datang dari Amerika disaat mentri perdagangan mereka Scott Bessent diberitakan mencoba untuk merevaluasi k...

21 February 2025 10:12
BIAS23.com NM23 Ai