Skenario Apa yang Akan Terjadi Pada Komoditas Saat Shutdown Berakhir ?
Pasar keuangan global tengah menanti keputusan politik di Washington terkait berakhirnya government shutdown yang sudah berlangsung sejak awal Oktober. Jika kebuntuan anggaran tersebut segera terselesaikan, analis memperkirakan pasar akan mengalami fase rebalancing besar, terutama pada harga emas, minyak, dan logam mulia lain.
Shutdown yang berkepanjangan selama lebih dari sebulan telah memperlambat aktivitas ekonomi, mengganggu rilis data resmi, dan menekan kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan fiskal AS. Maka, berakhirnya shutdown bisa menimbulkan dua efek berlawanan di pasar — jangka pendek dan jangka menengah.
Skenario 1: Shutdown Berakhir, Sentimen Pasar Pulih (Tekanan untuk Emas)
Dalam skenario ini, kesepakatan anggaran tercapai dan pemerintah AS kembali beroperasi penuh. Aktivitas ekonomi, layanan publik, serta pembayaran kontrak federal akan berjalan normal lagi.
Dampak langsungnya adalah kenaikan selera risiko (risk appetite) di pasar global — investor yang sebelumnya berlindung di aset aman seperti emas kemungkinan akan mulai beralih ke aset berisiko, seperti saham dan obligasi korporasi.
Menurut data historis, setiap kali ketidakpastian fiskal di AS berakhir, harga emas biasanya terkoreksi 1–3% dalam dua minggu pertama, seiring arus modal keluar dari safe haven.
Analis komoditas di Bloomberg Intelligence, menyebut:“Begitu shutdown berakhir, investor akan kembali fokus pada pertumbuhan ekonomi dan laporan inflasi. Itu bisa mengurangi dorongan beli terhadap logam mulia.”
Skenario 2: Shutdown Berakhir Tapi Ekonomi Melemah (Dukungan Baru untuk Emas)
Namun, sebagian analis menilai efeknya tidak akan sesederhana itu. Penutupan pemerintahan selama berminggu-minggu sudah menimbulkan kerusakan nyata pada ekonomi riil — dari konsumsi, rantai pasok, hingga penundaan belanja infrastruktur.
Jika data ekonomi setelah pembukaan kembali menunjukkan perlambatan signifikan atau penurunan belanja konsumen, pasar justru akan menilai bahwa The Fed berpotensi memangkas suku bunga lebih cepat untuk mencegah resesi.
Kondisi ini akan membuat harga emas justru naik lagi, karena dolar AS berpotensi melemah akibat ekspektasi pelonggaran moneter.
Analis senior dari Kitco Metals memperkirakan harga emas bisa naik menuju $4.500 per troy ounce jika data ekonomi pasca-shutdown menunjukkan penurunan aktivitas yang tajam.
“Shutdown yang panjang biasanya meninggalkan luka ekonomi, dan itu akan membuat The Fed terpaksa lebih dovish,” ujarnya.
Dampak Terhadap Komoditas Lain
Minyak Brent dan WTI kemungkinan akan menguat terbatas karena ekspektasi permintaan energi meningkat setelah aktivitas pemerintahan kembali normal. Namun, jika pasar menilai ekonomi AS masih lesu, harga minyak bisa cepat kembali turun.
Perak dan tembaga berpotensi menguat karena pembukaan kembali proyek infrastruktur federal yang sempat tertunda.
Dolar AS mungkin akan menguat sementara, tetapi melemah lagi jika fokus pasar bergeser ke ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed di Desember.
Outlook Jangka Menengah
Secara keseluruhan, berakhirnya shutdown AS akan mengubah fokus pasar dari politik ke ekonomi murni. Dalam jangka pendek, emas bisa melemah karena minat terhadap aset berisiko naik, tapi dalam jangka menengah potensi kenaikan masih besar jika efek ekonomi pasca-shutdown memperkuat alasan bagi The Fed untuk memangkas suku bunga.
Dengan situasi inflasi yang masih di atas target dan prospek pertumbuhan yang melambat, analis memperkirakan harga emas tetap stabil di atas $3.950 per troy ounce hingga akhir tahun, dengan bias bullish apabila data ekonomi memburuk.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id