
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Wall Street menutup perdagangan Rabu (30/9) dengan pergerakan campuran meski data inflasi Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan. S&P 500 turun 0,25% ke 7.651,54, setelah sempat menguat hampir 0,7% di awal sesi. Dow Jones melemah 0,86% ke 50.906,05, sementara Nasdaq Composite justru naik 0,24% ke 26.861,06.
Sentimen awal pasar mendapat dukungan dari data Personal Consumption Expenditures (PCE) Agustus. Inflasi utama melambat menjadi 3,4% secara tahunan dari 3,7%, sementara Core PCE turun menjadi 3,0% dari 3,3%. Kedua angka tersebut lebih rendah dari perkiraan pasar dan sempat mendorong optimisme bahwa Federal Reserve tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga.
Namun, penguatan saham kemudian tertahan oleh kenaikan yield obligasi AS. Yield Treasury 10 tahun naik ke sekitar 5,298% dan sempat menembus 5,3%, sementara yield 30 tahun naik mendekati 5,642%. Kenaikan tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi AS masih cukup kuat untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Data tenaga kerja swasta turut memperkuat sentimen tersebut. ADP melaporkan penciptaan 90.000 lapangan kerja pada September, melampaui perkiraan 68.000. Kondisi pasar tenaga kerja yang masih solid membuat investor tetap mempertimbangkan kemungkinan The Fed kembali mengetatkan kebijakan sebelum akhir tahun.
Ekspektasi kenaikan suku bunga Oktober memang menurun, dengan pasar kini memperkirakan peluang kenaikan 25 basis poin sekitar 35%, turun dari 51% sehari sebelumnya. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember masih tetap bertahan, membuat investor berhati-hati menjelang laporan Non-Farm Payrolls Jumat.
Analisis Newsmaker:
Data PCE yang lebih lunak belum cukup menjadi katalis kuat bagi Wall Street karena pasar masih dibayangi yield Treasury tinggi dan data tenaga kerja yang solid. Fokus berikutnya akan tertuju pada laporan Non-Farm Payrolls September, yang diperkirakan bertambah sekitar 84.000. Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi kembali mendorong yield dan memperbesar tekanan terhadap indeks saham AS.
Sumber: Newsmaker.id