
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS mencatat penurunan harian terburuk dalam lebih dari dua pekan pada perdagangan Kamis (3/9). Indeks Dolar AS atau DXY turun sekitar 0,6% ke kisaran 98,98 akibat merosotnya imbal hasil Treasury dan reli tajam yen Jepang.
Tekanan meningkat setelah Gubernur The Fed Christopher Waller membuka peluang mempertahankan suku bunga apabila inflasi terus melandai. Peluang kenaikan suku bunga September turun menjadi sekitar 50%, sedangkan yield Treasury AS tenor 10 tahun melemah menuju 4,76%.
Yen menjadi mata uang dengan penguatan paling menonjol. USD/JPY turun sekitar 1,8% ke kisaran 155,79 karena meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan akan menaikkan suku bunga pada September, meskipun belum ada konfirmasi mengenai intervensi baru di pasar valuta asing.
Euro dan pound ikut memanfaatkan pelemahan dolar. EUR/USD menguat sekitar 0,3% ke 1,1626 menjelang potensi kenaikan suku bunga ECB, sedangkan GBP/USD naik ke 1,3526 meski pasar masih mencermati risiko inflasi energi dan kondisi fiskal Inggris.
Dolar Australia naik sekitar 0,5% ke 0,7201 setelah pertumbuhan ekonomi kuartal kedua melampaui perkiraan dan Australia mencatat surplus perdagangan. Dolar Selandia Baru turut menguat sekitar 0,6% ke 0,5883.
Dolar Kanada dan franc Swiss juga menguat. USD/CAD turun ke sekitar 1,3785, sementara USD/CHF melemah ke 0,8075. Dolar Kanada mendapat dukungan dari harga minyak yang tinggi, sedangkan franc ditopang kenaikan inflasi Swiss ke level tertinggi dua tahun.
Analisa Newsmaker : dolar masih berisiko melanjutkan pelemahan apabila laporan Nonfarm Payrolls menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja. Sebaliknya, NFP yang kuat atau inflasi yang kembali meningkat dapat menghidupkan peluang kenaikan suku bunga The Fed dan memicu rebound dolar terhadap yen, euro, pound, serta mata uang komoditas. (arl)
Sumber : Newsmaker.id