
Trending

eurusd
Sumber: Newsmaker.id
Euro kembali melemah dan turun di bawah US$1,12 pada perdagangan (6/11), setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam satu bulan. Tekanan muncul ketika aksi jual besar-besaran saham teknologi global mendorong investor kembali mencari aset safe haven, sehingga permintaan terhadap dolar AS meningkat.
Sentimen terhadap saham berbasis AI ikut memburuk setelah kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS meningkatkan kekhawatiran terhadap regulasi yang lebih ketat. Kondisi tersebut dinilai dapat memperlambat ekspansi industri AI dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, pasar masih mencermati arah kebijakan European Central Bank (ECB). Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan bank sentral terus memantau data ekonomi untuk menentukan apakah kenaikan suku bunga diperlukan pada Desember. Sebelumnya, ECB mempertahankan suku bunga deposito di 2,5%.
Ekspektasi kenaikan suku bunga semakin kuat setelah inflasi zona euro mencapai 4% pada Oktober, level tertinggi dalam tiga tahun, terutama akibat kenaikan biaya energi. Pasar kini memperkirakan dua kenaikan suku bunga hingga pertengahan 2027, dengan kenaikan pertama berpotensi terjadi pada Desember.
Analisis Newsmaker: euro saat ini menghadapi tekanan dari penguatan dolar dan meningkatnya permintaan safe haven, meskipun prospek kenaikan suku bunga ECB memberikan dukungan fundamental. Jika sentimen risiko global kembali memburuk, euro berpotensi tetap tertekan. Sebaliknya, sinyal ECB yang semakin hawkish dapat membuka ruang bagi euro untuk kembali menguat. (srh)
Sumber: Newsmaker.id