
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (6/11) di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan setelah muncul serangkaian insiden terhadap kapal tanker di Timur Tengah. Brent kini berada di US$98,84 per barel, sementara WTI mencapai US$91,62 per barel. Meski demikian, harga minyak masih berada di jalur penurunan mingguan tajam setelah investor kembali mengevaluasi prospek konflik AS-Israel dengan Iran.
Penguatan tersebut melanjutkan rebound pada Kamis, ketika Brent melonjak hampir 4% dan WTI naik 2,7%. Sebelumnya, kedua benchmark anjlok lebih dari 8% pada Rabu setelah hasil pemilu paruh waktu AS sempat meningkatkan harapan terhadap upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik. Namun, ketidakpastian mengenai kesepakatan dan pemulihan pengiriman melalui Selat Hormuz membuat tekanan terhadap harga kembali mereda.
Risiko pasokan semakin menjadi perhatian setelah sedikitnya lima kapal melaporkan insiden sejak Minggu, menurut United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Korps Garda Revolusi Islam Iran juga melaporkan dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah setelah mencoba melewati rute yang tidak diizinkan di Selat Hormuz.
Ketidakpastian geopolitik juga meluas ke kawasan lain. Arab Saudi memperingatkan potensi bahaya di sekitar Yanbu, salah satu pusat ekspor minyaknya di Laut Merah, sementara kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran masih melakukan serangan terhadap Saudi. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tetap melakukan komunikasi dengan pejabat Saudi dan Qatar, menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka.
Analisis Newsmaker: rebound harga minyak saat ini mencerminkan meningkatnya kembali premi risiko pasokan, tetapi prospek jangka pendek masih dibayangi peluang penyelesaian diplomatik. Selain Timur Tengah, serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia juga menambah risiko pasokan global. Jika serangan terhadap jalur dan fasilitas energi terus meningkat, harga minyak berpotensi kembali mendapatkan dorongan, meski pasar masih menghadapi tekanan dari prospek pemulihan pasokan dan potensi berakhirnya konflik. (srh)
Sumber: Newsmaker.id