
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar AS (DXY) kembali menguat pada sesi perdagangan hari Jumat (6 November 2026), bergerak di kisaran level 101,7, setelah sempat mengalami tekanan akibat perubahan sentimen politik dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Pemulihan ini terjadi di tengah persiapan para investor menyambut rilis laporan *Non-Farm Payrolls* (NFP) bulan Oktober, yang diperkirakan akan menentukan arah pergerakan dolar menjelang akhir pekan. Data ketenagakerjaan tersebut akan memberikan gambaran mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS serta memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dukungan bagi dolar AS muncul dari sejumlah indikator pasar tenaga kerja yang menunjukkan kondisi yang relatif kuat. Laporan *Automatic Data Processing* (ADP) mencatat penambahan 86.000 lapangan kerja di sektor swasta selama bulan Oktober, sementara jumlah klaim pengangguran awal turun ke level terendah dalam 57 tahun terakhir. Kedua indikator ini mengisyaratkan aktivitas perekrutan yang terus berlanjut serta rendahnya jumlah individu yang mengajukan tunjangan pengangguran. Kondisi tersebut meningkatkan antisipasi investor terhadap laporan NFP yang mungkin lebih kuat dari perkiraan, yang berpotensi semakin memperkuat posisi dolar AS.
Meskipun data ketenagakerjaan menunjukkan ketahanan, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada bulan Desember justru menurun. Pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga berada di angka sekitar 68%, turun dari hampir 83% pada sesi sebelumnya. Pergeseran ekspektasi ini menyusul kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (*midterm elections*) AS, yang memicu aksi jual tajam di pasar saham—terutama di sektor teknologi. Investor khawatir akan potensi regulasi yang lebih ketat terhadap industri kecerdasan buatan (*artificial intelligence*/AI) serta perlambatan investasi di pusat data (*data center*), yang keduanya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan memengaruhi prospek kebijakan moneter.
Selain faktor domestik, perkembangan geopolitik turut memengaruhi pergerakan dolar AS. Kemenangan Partai Demokrat telah memunculkan harapan bahwa Kongres mungkin akan mendorong penyelesaian konflik dengan Iran, yang berpotensi mengurangi gangguan terhadap pasokan energi global. Prospek meredanya ketegangan di Timur Tengah telah memicu ekspektasi penurunan harga minyak, yang dapat membantu meredakan tekanan inflasi di Amerika Serikat. Jika inflasi menunjukkan tanda-tanda melandai, Federal Reserve mungkin memiliki lebih banyak ruang untuk mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih longgar. Meski demikian, ketidakpastian seputar hasil negosiasi yang mungkin terjadi membuat pasar bersikap hati-hati dalam menentukan arah investasi.
Newsmaker mencatat bahwa pemulihan indeks dolar ke level 101,7 mencerminkan sikap investor yang tengah menantikan kejelasan mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS. Data ADP dan angka klaim pengangguran yang relatif kuat telah memberikan dukungan bagi dolar; namun, penurunan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga menunjukkan bahwa sentimen pasar masih dipengaruhi oleh risiko politik dan kekhawatiran seputar pertumbuhan ekonomi. Jika laporan *Non-Farm Payrolls* (NFP) melampaui perkiraan dan disertai dengan pertumbuhan upah yang solid, dolar dapat terus menguat, yang akan memberikan tekanan turun terhadap harga emas. Sebaliknya, laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari ekspektasi dapat meningkatkan harapan akan kebijakan The Fed yang lebih akomodatif, yang kemungkinan akan menekan dolar dan mendukung kenaikan harga emas.