
Trending

usdjpy
Sumber: Newsmaker.id
Yen Jepang mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Asia, Jumat (6/11/2026), setelah sebelumnya mencapai level terkuat dalam sepekan. Pasangan USD/JPY kembali menguat menuju area 158,00 setelah sempat turun ke level 157,25 pada awal perdagangan. Pemulihan tersebut menghentikan pelemahan USD/JPY selama dua sesi berturut-turut, seiring meningkatnya permintaan dolar menjelang publikasi laporan Non-Farm Payrolls (NFP) AS. Meski demikian, penguatan dolar masih terbatas karena investor cenderung berhati-hati sebelum memperoleh kepastian mengenai kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat.
Pergerakan dolar AS masih dibayangi penurunan imbal hasil obligasi pemerintah yang mendekati level terendah dalam dua bulan terakhir. Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS meningkatkan harapan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tidak akan melanjutkan operasi militer terhadap Iran dalam waktu dekat. Ekspektasi meredanya konflik Timur Tengah mendorong penurunan tajam harga minyak dunia dan membantu mengurangi kekhawatiran inflasi. Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Desember, sehingga membatasi ruang penguatan dolar terhadap yen.
Selain perkembangan geopolitik, kejatuhan saham-saham teknologi di Wall Street turut memengaruhi pergerakan pasar mata uang. Tekanan jual yang besar mendorong investor meningkatkan kepemilikan aset aman, termasuk obligasi pemerintah AS dan yen Jepang. Meningkatnya permintaan obligasi menyebabkan imbal hasil Treasury turun, sehingga mengurangi keuntungan relatif dari memegang aset berbasis dolar. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membantu yen mempertahankan sebagian penguatannya meskipun USD/JPY mengalami pemulihan teknikal menjelang rilis data ekonomi AS.
Dari Jepang, ekspektasi kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) yang lebih ketat memberikan dukungan tambahan terhadap yen. Risalah pertemuan kebijakan BoJ pada September, yang dipublikasikan Kamis, menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan menilai kenaikan suku bunga secara bertahap masih diperlukan seiring penyesuaian tingkat pelonggaran moneter. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember. Jika BoJ melanjutkan pengetatan kebijakan sementara ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed melemah, selisih suku bunga kedua negara berpotensi menyempit dan meningkatkan daya tarik yen Jepang.