
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia mengalami koreksi tipis pada perdagangan Jumat (6/11/2026), tetapi masih berada di jalur penguatan mingguan terbesar sejak Agustus. Harga emas spot turun 0,1% menjadi US$4.083,31 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas AS melemah 0,9% ke level US$4.050,67. Meski mengalami tekanan, emas telah mencatat kenaikan lebih dari 5% sepanjang pekan, didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah hasil pemilu sela mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan ekonomi Washington.
Penguatan emas sepanjang pekan dipicu oleh kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS yang meningkatkan perkiraan bahwa kebijakan fiskal Presiden Donald Trump akan menghadapi pembatasan dari Kongres. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi penurunan belanja dan kebutuhan pembiayaan pemerintah, sehingga memberikan tekanan terhadap imbal hasil obligasi AS hingga mencapai level terendah sejak awal September. Penurunan imbal hasil meningkatkan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan pendapatan bunga. Namun, dolar AS mulai menunjukkan pemulihan terbatas dengan indeks dolar naik 0,1% ke level 101,62, sehingga membatasi kenaikan harga emas pada perdagangan Jumat.
Di sisi lain, tekanan jual di pasar saham global turut memengaruhi pergerakan emas. Saham-saham teknologi AS melanjutkan pelemahan selama tiga sesi berturut-turut akibat kekhawatiran terhadap kemungkinan pengetatan regulasi industri kecerdasan buatan (AI), terutama investasi pusat data. Penurunan tajam pasar saham mendorong sebagian investor menjual kepemilikan emas untuk memperoleh likuiditas dan menutupi kerugian pada aset lainnya. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa emas dapat mengalami koreksi meskipun ketidakpastian pasar meningkat. Sementara itu, analis ANZ menilai pembatasan ekspansi fiskal AS berpotensi menekan imbal hasil obligasi, tetapi juga dapat mengurangi permintaan emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap peningkatan utang dan defisit pemerintah.
Dukungan terhadap emas juga berasal dari permintaan institusional yang tetap kuat, khususnya pembelian oleh bank sentral. Berdasarkan data yang dikutip analis ANZ, bank sentral dunia menambah cadangan emas bersih sebesar 321 ton pada kuartal III-2026, mencatat laju pembelian tercepat sejak akhir 2024. Peningkatan tersebut mencerminkan upaya diversifikasi cadangan devisa di tengah risiko geopolitik dan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal global. Sementara itu, investor kini menantikan laporan Non-Farm Payrolls (NFP) AS pada Jumat untuk memperoleh petunjuk mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Hasil laporan tersebut berpotensi menentukan apakah emas mampu mempertahankan momentum penguatannya menjelang akhir pekan.
Newsmaker mencatat, koreksi emas ke area US$4.049 belum menghapus momentum positif setelah logam mulia mencatat kenaikan lebih dari 5% sepanjang pekan. Penurunan imbal hasil obligasi, perubahan ekspektasi kebijakan fiskal AS, dan kuatnya pembelian bank sentral menjadi faktor yang mendukung prospek harga emas. Namun, pemulihan dolar serta kebutuhan likuiditas investor akibat tekanan pasar saham masih berpotensi memicu volatilitas. Jika data NFP menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja dan meningkatkan harapan pelonggaran kebijakan The Fed, emas berpeluang kembali menguji level US$4.100. Sebaliknya, laporan pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat mendorong penguatan dolar dan membuka peluang koreksi lanjutan menuju area psikologis US$4.000.