
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury bergerak turun pada perdagangan Selasa, menjauh dari level tertinggi dalam beberapa dekade. Penurunan yield terjadi seiring melemahnya harga minyak dunia yang membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi.
Yield Treasury tenor 10 tahun turun lebih dari 5 basis poin ke level 5,256%, setelah sehari sebelumnya sempat mencapai posisi tertinggi sejak April 2002. Sementara itu, yield Treasury tenor 30 tahun turun lebih dari 3 basis poin menjadi 5,625%, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak Mei 2002. Adapun yield Treasury tenor 2 tahun melemah lebih dari 4 basis poin ke 4,787%.
Sebagai catatan, satu basis poin setara dengan 0,01%. Pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harga obligasi, sehingga ketika harga Treasury naik, imbal hasilnya cenderung turun.
Penurunan yield terjadi bersamaan dengan koreksi harga minyak dunia. Harga minyak Brent turun sekitar 2% ke kisaran US$98 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 2% menuju US$87 per barel. Pelemahan minyak menjadi perhatian pasar karena dapat mengurangi tekanan terhadap inflasi apabila berlangsung secara berkelanjutan.
Sebelumnya, yield Treasury melonjak tajam pada perdagangan Senin. Yield tenor 10 tahun dan 30 tahun bahkan menyentuh level tertinggi dalam sekitar 24 tahun setelah pasar mencerna data terbaru dari Institute for Supply Management (ISM). Data tersebut menunjukkan pertumbuhan sektor jasa AS mulai melambat, meskipun aktivitas ekonomi masih berada di zona ekspansi.
ISM Services PMI tercatat di level 54,9 pada September, hampir sesuai dengan ekspektasi pasar namun sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Agustus. Di sisi lain, indeks harga justru naik 1,4 poin menjadi 74, menandakan tekanan harga di sektor jasa masih cukup kuat.
Pergerakan data ekonomi tersebut membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan arah kebijakan Federal Reserve. Berdasarkan ekspektasi pasar, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya berada di kisaran 78%.
Fokus investor selanjutnya tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) periode September yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Dokumen tersebut akan dicermati untuk mencari petunjuk mengenai pandangan pejabat The Fed terhadap inflasi, kondisi ekonomi, serta arah kebijakan suku bunga ke depan.
Bagi pasar keuangan, kombinasi penurunan harga minyak dan yield Treasury dapat menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan dolar AS, saham, hingga emas. Jika tekanan inflasi terus mereda dan yield bergerak turun, ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed berpotensi menjadi lebih longgar. Sebaliknya, tekanan harga yang masih tinggi dapat membuat bank sentral AS mempertahankan sikap hati-hati terhadap penurunan suku bunga.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id