
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Federal Reserve mendapatkan alasan tambahan untuk menahan kenaikan suku bunga setelah data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja Amerika Serikat mengalami perlambatan lebih tajam dari perkiraan. Nonfarm Payrolls (NFP) hanya bertambah 29.000 pekerjaan pada September, jauh di bawah ekspektasi ekonom sebesar 90.000. Pertumbuhan payrolls Agustus juga direvisi lebih rendah, sementara tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,2% dari 4,1%.
Perlambatan pasar tenaga kerja menjadi perhatian karena The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September untuk menjaga inflasi kembali menuju target 2%. Para pembuat kebijakan sebelumnya membuka peluang kenaikan tambahan hingga akhir tahun apabila tekanan inflasi akibat konflik Iran dan faktor lainnya tetap tinggi, dengan catatan kondisi pasar tenaga kerja tetap cukup kuat.
Namun, hasil NFP terbaru mengubah perhitungan pasar. Kontrak berjangka suku bunga kini menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Oktober berada di bawah 20%, turun dari lebih dari 25% sebelumnya. Pasar juga memangkas sebagian taruhan terhadap kenaikan pada Desember, meskipun ekspektasi kenaikan pada akhir tahun masih relatif tinggi.
Data ketenagakerjaan tersebut juga memperkuat sinyal dari komponen lain, termasuk kenaikan tingkat pengangguran dan perlambatan pertumbuhan upah. Kondisi ini membuat pasar mulai menimbang risiko bahwa The Fed harus lebih berhati-hati agar kebijakan moneter yang terlalu ketat tidak semakin menekan aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja. Di sisi lain, inflasi yang masih berada di atas target membuat ruang pelonggaran kebijakan tetap terbatas.
Analisis Newsmaker:
NFP September menciptakan perubahan penting dalam ekspektasi pasar terhadap The Fed. Berkurangnya peluang kenaikan suku bunga dapat menekan dolar AS dan yield Treasury, sekaligus membuka ruang bagi emas dan aset berisiko untuk mendapatkan dukungan. Namun, jika inflasi dan harga energi kembali meningkat, tekanan untuk mempertahankan kebijakan ketat dapat muncul kembali sehingga volatilitas pada USD, gold, saham, dan obligasi masih berpotensi tinggi.
Sumber: Newsmaker.id