Nikkei dan Kospi Terpukul, Usai Blokade AS di Hormuz
Saham Jepang dan Korea Selatan melemah tajam saat pembukaan perdagangan, seiring pasar Asia merespons janji Amerika Serikat untuk memblokade Selat Hormuz yang berisiko memperpanjang guncangan pasokan energi. Nikkei 225 turun sekitar 1%, sementara Kospi merosot hampir 2%, sejalan dengan pelemahan di pasar obligasi.
Penurunan indeks Asia ini terjadi bersamaan dengan pelemahan futures indeks saham AS, namun respons ekuitas dinilai masih relatif moderat dibanding lonjakan harga minyak yang melesat lebih dari 8%. Perbedaan skala reaksi tersebut mencerminkan kehati-hatian investor dalam menilai seberapa jauh eskalasi kebijakan akan berujung pada gangguan fisik yang berkepanjangan.
Sejumlah pelaku pasar tampaknya masih berasumsi ancaman Presiden Donald Trump bisa kembali tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan. Hingga sejauh ini, belum ada eskalasi baru yang signifikan dalam pertempuran aktual di Timur Tengah.
Meski begitu, risiko penurunan lebih dalam pada ekuitas tetap terbuka jika sinyal dari pasar minyak berlanjut, terutama bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi. Lonjakan biaya energi berpotensi menjadi kanal transmisi utama ke inflasi, margin perusahaan, dan prospek pertumbuhan.
Lebih lanjut, fokus pasar akan tertuju pada perkembangan implementasi blokade, respons Iran, serta apakah volatilitas minyak bertahan cukup lama untuk mengubah ekspektasi suku bunga dan sentimen risiko global.
5 Poin Inti:
- Nikkei turun ~1% dan Kospi hampir -2% di pembukaan setelah kabar blokade AS di Hormuz.
- Reaksi ekuitas masih lebih “ringan” dibanding minyak yang melonjak >8%.
- Investor menunggu apakah ancaman Trump berujung aksi nyata; belum ada eskalasi baru di medan konflik.
- Risiko penurunan saham bisa membesar jika sinyal ketatnya pasokan energi berlanjut.
- Asia rentan karena ketergantungan impor energi; dampaknya bisa menjalar ke inflasi dan pertumbuhan. (asd)
Sumber: Newsmaker.id