Bursa Eropa Anjlok, Lonjakan Energi Picu Kekhawatiran Suku Bunga
Bursa saham Eropa ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (23/7) setelah lonjakan harga energi kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek suku bunga tinggi di kawasan Euro. Investor juga mencermati sejumlah laporan keuangan perusahaan besar yang belum mampu mengangkat sentimen pasar.
Indeks Euro STOXX 50 turun 1,7% ke level 6.210, sementara STOXX Europe 600 melemah 1,3% menjadi 638. Tekanan terjadi hampir merata, terutama pada sektor perbankan dan barang mewah.
Saham UniCredit anjlok 4,8% meskipun bank asal Italia tersebut membukukan kinerja kuartalan yang solid. Investor khawatir rencana akuisisi Commerzbank asal Jerman dapat mengganggu program pembelian kembali saham perusahaan.
BNP Paribas juga turun 2,8% walaupun laba perusahaan melampaui perkiraan pasar. Saham perbankan ikut tertekan karena investor memperhitungkan kondisi keuangan yang semakin ketat dan risiko kenaikan biaya pendanaan.
Sentimen pasar memburuk setelah European Central Bank mempertahankan suku bunga acuannya, sesuai perkiraan. Namun, ECB memberikan sinyal bahwa risiko inflasi yang kembali meningkat dapat membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan.
Kekhawatiran tersebut semakin kuat seiring lonjakan harga gas dan energi akibat meluasnya perang antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik mulai mengganggu pergerakan kapal tanker dari kawasan Timur Tengah dan meningkatkan risiko terhadap pasokan energi menuju Eropa.
Kenaikan harga energi menjadi masalah besar bagi kawasan Euro karena sebagian besar negara Eropa bergantung pada impor minyak dan gas. Apabila biaya energi tetap tinggi, harga transportasi, produksi, dan kebutuhan rumah tangga berpotensi ikut meningkat.
Saham sektor barang mewah juga mengalami tekanan. LVMH, Hermes, dan Ferrari masing-masing turun lebih dari 3,5%, mengikuti sentimen negatif setelah hasil kinerja Moncler mengecewakan pasar.
Pelemahan saham barang mewah menunjukkan bahwa investor mulai khawatir terhadap daya beli konsumen. Inflasi tinggi dan biaya pinjaman yang mahal dapat membuat masyarakat mengurangi belanja terhadap produk non-esensial dan barang premium.
Dampak terhadap Pasar
Lonjakan harga energi dapat meningkatkan inflasi dan membuat ECB mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini cenderung menekan bursa Eropa karena biaya perusahaan naik dan daya beli konsumen melemah.
Euro berpotensi bergerak volatil. Dolar AS dapat menguat sebagai aset aman, sementara emas berpeluang mendapat dukungan dari ketidakpastian pasar. Minyak dan gas juga masih berpotensi bertahan tinggi selama gangguan pasokan dari Timur Tengah berlanjut.(yds)
Sumber: Newsmaker.id