Nvidia Dorong Nasdaq, Pasar Abaikan Lonjakan Minyak
Saham AS ditutup menguat pada Senin (1/6) dan kembali mencetak rekor, meski harga minyak melonjak di tengah ketegangan Timur Tengah. S&P 500 naik 0,26% ke 7.599,96, Nasdaq menguat 0,42% ke 27.086,81, dan Dow naik 0,09% ke 51.078,88. Ketiga indeks sempat menyentuh rekor intraday dan menutup di level tertinggi baru.
Sektor teknologi menjadi motor utama setelah Nvidia melonjak lebih dari 6% usai meluncurkan prosesor baru untuk PC. Dampaknya merembet ke saham terkait, dengan Dell naik lebih dari 10% dan HP menguat lebih dari 8%. Sebaliknya, Intel turun lebih dari 4%, menunjukkan pasar menilai peta persaingan chip PC kembali berubah.
Di luar teknologi, sektor energi menjadi satu-satunya sektor S&P 500 lain yang juga berada di zona hijau. Marathon Petroleum naik hampir 4%, sementara Exxon Mobil dan Chevron masing-masing naik 2,8% dan 1,9%, sejalan dengan reli harga minyak.
Minyak melesat untuk membuka pekan: WTI naik 5,93% dan ditutup di US$92,54/barel, sedangkan Brent naik 4,24% dan ditutup di US$94,98/barel. Reli ini terjadi setelah media pemerintah Iran melaporkan negosiator menghentikan komunikasi dengan AS dan Teheran akan menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon.
Di sisi politik, Trump memberi sinyal campuran. Ia mengatakan kepada CNBC tidak peduli jika negosiasi damai dengan Iran berakhir, namun kemudian menulis di Truth Social bahwa ia melakukan panggilan “produktif” dengan Benjamin Netanyahu dan menegaskan tidak akan ada pasukan menuju Beirut. Dalam unggahan terpisah, Trump juga menyebut pembicaraan dengan Iran “terus berlanjut, dengan cepat”.
Pasar tetap memantau jalur gencatan yang rapuh. Pekan lalu, negosiator AS dan Iran disebut mencapai MoU 60 hari yang mendorong reli ekuitas, tetapi Trump menutup pertemuan Situation Room tanpa mengumumkan keputusan final. Dengan minyak yang kembali bergerak agresif dan headline geopolitik yang berubah cepat, fokus investor kini pada apakah reli teknologi dapat bertahan sekaligus apakah lonjakan energi mulai mengganggu narasi inflasi dan suku bunga. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id