Dolar AS Dekati Level Tertinggi 3 Pekan, Tarif Trump Jadi Sorotan
Indeks dolar AS bergerak di sekitar level 101,3 pada perdagangan Jumat (24/7), mendekati level tertinggi dalam tiga pekan. Penguatan ini terjadi setelah kebijakan tarif terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap sejumlah mitra dagang utama kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi tembok tarif baru.
Dalam kerangka tarif baru tersebut, impor dari beberapa negara seperti Meksiko, Kanada, Inggris, dan India akan dikenakan tarif 10% terkait dugaan isu kerja paksa. Sementara itu, barang dari Uni Eropa dan Taiwan akan dibatasi pada tarif 10%.
Produk dari Jepang, Korea Selatan, dan Swiss secara umum akan menghadapi bea masuk hingga 12,5%, dengan tambahan biaya untuk beberapa jenis barang tertentu. Kebijakan ini membuat investor kembali mencermati risiko gangguan perdagangan global dan potensi tekanan terhadap rantai pasok.
Dolar AS juga mendapat dukungan dari meningkatnya ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang lebih ketat. Ketegangan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi, ditambah kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih tangguh, membuat pasar menilai peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka.
Dari sisi dampak market, penguatan dolar AS dapat memberi tekanan pada mata uang utama lain, komoditas, dan aset berisiko. Swap market saat ini memperkirakan peluang sekitar 34% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pekan depan, dengan setidaknya satu kenaikan sudah sepenuhnya diperhitungkan pada September. Jika tarif dagang dan harga energi terus meningkat, DXY berpotensi tetap kuat, sementara emas dan saham global bisa bergerak lebih volatil. (asd)
Sumber: Newsmaker.id