PCE “Mendingin”, Wall Street Masih Tertahan oleh Minyak
Saham AS bergerak relatif datar pada Kamis (28/5) setelah rilis inflasi PCE April yang sedikit lebih rendah dari perkiraan bulanan, membantu meredakan kekhawatiran inflasi yang terlalu persisten—meski harga minyak kembali naik. S&P 500 turun 0,1%, Nasdaq melemah 0,2%, dan Dow Jones turun 192 poin atau 0,4%.
Data PCE menunjukkan kenaikan 0,4% (MoM) dengan inflasi 3,8% (YoY), menurut Departemen Perdagangan AS. Konsensus ekonom memperkirakan 0,5% (MoM) dan 3,8% (YoY). Angka bulanan yang lebih rendah memberi sinyal tekanan harga mulai mereda, tetapi laju tahunan masih jauh di atas target inflasi The Fed 2%, menjaga narasi “higher for longer” tetap relevan.
Di sisi energi, minyak memantul dan menambah lapisan ketidakpastian bagi pasar. WTI naik sekitar 2% menembus US$90 per barel, sementara Brent naik hampir 2% menembus US$96. Penguatan minyak terjadi di tengah laporan eskalasi terbaru, setelah IRGC menyatakan menargetkan pangkalan udara AS dan militer AS dilaporkan melakukan serangan baru di Iran.
Di saham individual, Snowflake melonjak 38% pada perdagangan pra-pasar setelah memberikan panduan kinerja kuartal kedua fiskal yang lebih kuat dari perkiraan, serta membukukan kinerja kuartal pertama yang solid. Perusahaan juga mengumumkan rencana belanja US$6 miliar untuk layanan Amazon Web Services selama lima tahun, memperkuat narasi belanja infrastruktur data dan cloud.
Pasar juga masih mencerna sinyal campuran soal Hormuz. Pada Rabu, penurunan minyak sempat membantu Dow mencetak rekor, setelah Menlu AS Marco Rubio mengatakan pembicaraan dengan Iran menunjukkan progres dan jalur diplomasi akan diberi kesempatan. Namun Presiden Donald Trump menegaskan tidak akan membiarkan Iran mengontrol Selat Hormuz. Gedung Putih juga membantah laporan TV pemerintah Iran tentang kesepakatan yang dapat memulihkan arus komersial dalam satu bulan, menyebutnya “rekayasa sepenuhnya”.
Untuk sesi berikutnya, perhatian pasar tetap terbagi antara dua kanal utama: apakah PCE yang lebih “dingin” cukup untuk menahan dorongan hawkish The Fed, dan apakah volatilitas minyak akibat dinamika Iran–Hormuz kembali mengangkat risiko inflasi energi yang bisa menekan ruang pelonggaran kebijakan. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id